Inflasi April 2026 Capai 2,42%, Menkeu Purbaya: Masih Terkendali

10 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2026 secara tahunan atau year on year (YoY) sebesar 2,42 persen. Lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2025 sebesar 1,95 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, inflasi saat ini masih dalam kondisi terkendali, seiring kebijakan pemerintah dalam menjaga harga energi, khususnya melalui subsidi bahan bakar minyak (BBM). Lonjakan inflasi sebelumnya dipengaruhi oleh faktor subsidi, dan setelah tekanan tersebut mereda, inflasi kembali ke level yang lebih stabil.

"Inflasi bagus kan hari ini? Itu kan seperti saya bilang sebelumnya, yang sebelumnya tinggi karena ada faktor subsidi. Begitu hilang kan kembali ke 2,4,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kantornya, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, pengendalian inflasi juga bergantung pada kebijakan harga energi. Pemerintah memilih menahan sebagian subsidi BBM untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

"Jadi, inflasinya akan relatif terkendali. Tapi, kalau kita lepas harga minyak, harga BBM sesuai dengan harga minyak dunia, pasti harga minyaknya, inflasinya naik tinggi, daya beli akan tergerus. Itulah alasan kenapa kita menahan sebagian subsidi BBM."

Ia menekankan bahwa setiap kebijakan telah melalui simulasi berbagai skenario, termasuk dampaknya terhadap inflasi, daya beli, dan pertumbuhan ekonomi.

Inflasi Tahunan April 2026 Tembus 2,42%, Dua Komoditas Ini jadi Biang Kerok

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2026 secara tahunan atau year on year (YoY) sebesar 2,42  persen. Lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2025 sebesar 1,95 persen. 

"Secara year on year pada April 2026, terjadi inflasi sebesar 2,42 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026," jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, Senin (4/5/2026).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 3,06 persen, dan memberikan andil inflasi 0,90 persen. 

"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini yaitu ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), dan juga telur ayam ras," papar Ateng. 

Sedangkan kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi dari tahun ke tahun terutama perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi sebesar 11,43 persen, dan memberi andil 0,77 persen. 

"Inflasi pada kelompok tersebut terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan," ujar Ateng. 

Inflasi Bulanan 0,13%

Adapun secara bulanan, BPS mencatat kenaikan inflasi pada April 2026 sebesar 0,13 persen. Tarif pesawat hingga harga BBM jadi beberapa komoditas yang jadi pendorong inflasi pada bulan tersebut. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, terjadi inflasi sebesar 2,06 persen secara tahun kalender (year to date) pada April 2026. 

"Pada April 2026, inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan (month to month), atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026," jelas Ateng pada kesempatan yang sama. 

Daftar Komoditas Penyumbang Inflasi

Kelompok pengeluaran penyebab inflasi bulanan terbesar pada transportasi, dengan inflasi sebesar 0,99 persen. Kelompok transportasi ini memberikan andil inflasi sebesar 0,12 persen. 

Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi, yaitu tarif angkutan udara dengan andil inflasi 0,11 persen. Juga bensin dengan andil inflasi 0,02 persen. 

"Komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi, terutama minyak goreng dengan andil 0,05 persen, tomat 0,03 persen, beras serta nasi dan lauk dengan andil inflasi masing-masing 0,02 persen," imbuh Ateng. 

Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi pada April 2026, yaitu daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |