Indonesia Bakal Stop Impor dan Swasembada Solar di 2026

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memproyeksikan Indonesia bisa stop melakukan impor solar, sekaligus mencapai swasembada BBM jenis gasoil tersebut pada 2026 ini.

Optimisme itu diusung berkat adanya kenaikan produksi dari Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang target bisa segera beroperasi di tahun ini.

"Asumsinya pada tahun ini kita juga bisa surplus dan juga swasembada untuk solar sama avtur. Ya mudah-mudahan kita juga bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri. Ini kita akan pastikan dulu dengan RDMP Balikpapan," kata Yuliot saat ditemui di kantornya, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Lebih lanjut, Yuliot juga turut merespons rencana PT Pertamina (Persero) dan badan usaha SPBU swasta yang dikabarkan tidak akan lagi mengimpor solar pada 2026 ini. Menurutnya, kondisi tersebut bakal disesuaikan dengan situasi yang ada di dalam negeri.

"Jadi ini kita akan lihat produksi dalam negeri terlebih dulu, ya kira-kira berapa. Jadi berapa alokasi untuk impor, berapa untuk kebutuhan dalam negeri," ujar dia.

Pernyataan terkait solar tersebut selaras dengan yang telah diutarakan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Target swasembada solar sangat bergantung pada mulai beroperasinya proyek RDMP Balikpapan.

Proyek Senilai Rp 126 Triliun

Adapun proyek RDMP Kilang Balikpapan merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), dimana proyek ini menelan investasi sebesar USD 7,4 miliar atau setara dengan Rp 126 triliun.

Proyek ini menjadi salah satu investasi yang terbesar dilakukan BUMN dalam satu titik kegiatan untuk mengurangi impor BBM.

Bahlil mengungkapkan, jika kilang RDMP Balikpapan sudah beroperasi penuh, Indonesia diproyeksikan akan mengalami surplus produksi Solar yang cukup signifikan.

"Solar nanti tahun 2026 itu, kalau RDMP kita sudah jadi kita akan surplus kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta (kiloliter). Jadi, agenda kami di 2026 itu tidak ada impor Solar lagi," ujar Bahlil di penghujung 2025 lalu.

Meskipun menargetkan nihil impor solar pada 2026, Bahlil menekankan bahwa realisasi kebijakan tersebut masih menunggu kesiapan infrastruktur dan menyesuaikan dengan jadwal operasional kilang yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero).

Koordinasi dengan Pertamina

Kementerian ESDM terus melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina untuk memastikan kesiapan teknis di lapangan.

Bahlil menjelaskan, jika operasional penuh kilang baru dimulai pada Maret 2026, maka masih ada kemungkinan dilakukan impor dalam jumlah kecil pada awal tahun untuk menjaga ketahanan stok nasional.

"Tergantung dari Pertamina ya. Kalau katakanlah bulan Maret baru bisa (beroperasi penuh), berarti Januari dan Februari mungkin masih ada sedikit (impor) yang kita eksekusi. Tapi itu perlu saya exercise ya. Kalau memang Januari-Februari tidak perlu impor, ya tidak usah," jelasnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |