Harga Minyak Turun Tajam usai Perundingan AS-Iran Capai Kemajuan

2 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Senin setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan izin penjualan minyak mentah Iran. Langkah tersebut memunculkan harapan bertambahnya pasokan minyak global sehingga menekan harga komoditas energi.

Mengutip CNBC, Selasa (23/6/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional, turun 3,3% dan ditutup di level US$ 77,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 2,3% ke posisi US$ 74,82 per barel.

Departemen Keuangan AS menerbitkan lisensi selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran. Kebijakan tersebut juga memungkinkan impor minyak mentah Iran ke AS dengan pembayaran menggunakan dolar AS.

Keputusan tersebut muncul setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Washington dan Teheran berhasil mencapai perkembangan positif dalam pembicaraan damai yang berlangsung di Swiss pada akhir pekan lalu.

"Great progress" atau kemajuan besar disebut telah dicapai dalam proses negosiasi tersebut, sehingga meningkatkan optimisme pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

AS dan Iran Sepakati Peta Jalan Perdamaian

Mediator dari Qatar dan Pakistan mengungkapkan bahwa pejabat AS dan Iran telah menyepakati peta jalan yang ditujukan untuk mencapai kesepakatan final dalam waktu 60 hari.

Kedua negara juga sepakat melanjutkan negosiasi teknis sepanjang pekan ini dan membentuk komite tingkat tinggi untuk mengawasi proses mediasi.

Perkembangan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan kembali melakukan aksi militer terhadap Iran. Pernyataan itu sempat memunculkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan kesepakatan damai sementara yang dicapai pekan lalu.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut pada Minggu, bertepatan dengan pertemuan JD Vance dan pejabat Iran di Swiss.

Namun, pembicaraan tersebut dibayangi oleh keputusan Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Pertemuan yang berlangsung di kawasan resor Bürgenstock, Swiss, menjadi negosiasi pertama sejak Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pekan lalu untuk mengakhiri konflik dan memperpanjang gencatan senjata selama sedikitnya 60 hari.

Pasar Masih Waspadai Risiko Pasokan

Kesepakatan yang dicapai sebelumnya mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian konflik di sejumlah wilayah Timur Tengah, termasuk Lebanon.

Namun, Iran menuduh AS gagal memastikan gencatan senjata di Lebanon berjalan efektif. Karena itu, Teheran menegaskan bahwa pembahasan saat ini hanya berfokus pada implementasi nota kesepahaman yang telah disepakati, bukan isu lain seperti program nuklir Iran.

Analis Quantum Strategy, David Roche, menilai pasokan minyak Timur Tengah saat ini sebenarnya sudah mendekati level sebelum perang jika memperhitungkan cadangan minyak yang tersimpan di fasilitas penyimpanan maupun kapal tanker.

Meski demikian, dalam laporannya pada Senin, Roche mengingatkan bahwa kondisi tersebut lebih banyak ditopang oleh pelepasan stok cadangan, bukan peningkatan produksi yang berkelanjutan.

Menurut dia, pasar berpotensi menghadapi tekanan baru ketika persediaan tersebut mulai menipis.

Di sisi lain, Goldman Sachs menilai gejolak pasokan yang berkepanjangan justru dapat mempercepat transisi global menuju kendaraan listrik.

Jika tren itu terjadi, permintaan minyak mentah dalam jangka panjang berpotensi menurun dan menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga minyak di masa depan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |