Mantan Gubernur The Fed Alan Greenspan Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

4 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), Alan Greenspan meninggal dunia pada usia 100 tahun. Kabar duka tersebut disampaikan oleh istrinya, Andrea Mitchell.

Dikutip dari BBC, Senin (22/6/2026), dalam pernyataannya, Mitchell menyebut Greenspan meninggal akibat komplikasi penyakit Parkinson. Ia mengenang suaminya sebagai sosok yang berperan besar dalam membentuk arah perekonomian Amerika Serikat selama puluhan tahun di bawah pemerintahan presiden dari berbagai partai politik.

Selama hampir dua dekade, Greenspan memegang tanggung jawab menjaga stabilitas ekonomi AS dan nilai dolar. Ia menjabat sebagai Ketua Federal Reserve pada 1987 hingga 2006, sebuah posisi yang kerap disebut sebagai jabatan paling berpengaruh kedua setelah Presiden Amerika Serikat.

Di bawah kepemimpinannya, Amerika Serikat menikmati salah satu periode pertumbuhan ekonomi terpanjang dalam sejarah modern. Karena pengaruhnya yang besar terhadap pasar keuangan global, Greenspan bahkan dijuluki sebagai "dewa di balik mesin keuangan Amerika".

Dari Musisi Jazz Menjadi Ekonom Berpengaruh

Alan Greenspan lahir di Kota New York City pada 6 Maret 1926. Masa mudanya jauh dari dunia ekonomi. Ia merupakan seorang musisi berbakat yang mempelajari klarinet di Juilliard School.

Greenspan sempat bermain musik bersama saxophonist jazz legendaris Stan Getz dan melakukan tur bersama Henry Jerome Band. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman langsung mengenai dunia usaha dan ekonomi riil.

Pada usia 19 tahun, ia memutuskan beralih ke dunia akademik dengan mengambil jurusan ekonomi di New York University. Di sana, ia mulai mengembangkan pandangan ekonomi pasar bebas yang kemudian menjadi dasar pemikirannya sepanjang karier.

Dipengaruhi Filsafat Pasar Bebas Ayn Rand

Pada 1952, Greenspan bertemu dengan novelis dan filsuf terkenal Ayn Rand. Pertemuan tersebut menjadi titik penting dalam pembentukan pandangan ekonominya.

Ia menjadi pendukung kuat gagasan pasar bebas dan meyakini bahwa individu yang mengejar kepentingannya sendiri akan menghasilkan efisiensi ekonomi yang lebih besar. Dalam sebuah tulisan pada 1966, Greenspan bahkan mengkritik konsep negara kesejahteraan (welfare state) dan mendukung peran pemerintah yang lebih terbatas dalam perekonomian.

Jadi Penasehat Presiden hingga Pimpin The Fed

Karier Greenspan mulai bersinar setelah berhasil memprediksi resesi era Presiden Dwight D. Eisenhower. Ia kemudian menjadi penasihat ekonomi kampanye Presiden Richard Nixon pada Pemilu 1968.

Setelah Nixon terpilih, Greenspan dipercaya memimpin Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih. Kariernya terus menanjak di era Presiden Gerald Ford dan Ronald Reagan.

Pada Agustus 1987, Reagan menunjuk Greenspan sebagai Ketua Federal Reserve. Jabatan tersebut kemudian diembannya selama lima periode berturut-turut hingga 2006, menjadikannya salah satu ketua The Fed dengan masa jabatan terlama dalam sejarah.

Berhasil Menghadapi Berbagai Krisis

Tidak lama setelah menjabat, Greenspan langsung menghadapi ujian besar berupa kejatuhan pasar saham atau "Black Monday" pada Oktober 1987, ketika indeks saham AS anjlok lebih dari 30%.

Respons cepat Greenspan dengan menjaga likuiditas dan mendorong kredit murah berhasil meredakan kepanikan pasar. Pendekatan serupa juga diterapkan dalam menghadapi berbagai krisis lain, mulai dari krisis tabungan dan pinjaman AS, Gulf War, krisis peso Meksiko, hingga berbagai gejolak pasar keuangan global.

Kebijakan tersebut membuat Greenspan mendapat reputasi sebagai penyelamat ekonomi Amerika Serikat dan menjadi figur yang sangat dihormati oleh pelaku pasar.

Masa Keemasan Ekonomi AS

Pada era Presiden Bill Clinton, Greenspan memimpin Federal Reserve saat ekonomi AS mengalami pertumbuhan pesat pada akhir 1990-an.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi rendah, dan tingkat pengangguran yang menurun menjadikan periode tersebut sebagai salah satu masa keemasan ekonomi Amerika Serikat.

Karena keberhasilannya, ia kembali dipertahankan oleh Presiden dari Partai Demokrat maupun Republik, termasuk George H. W. Bush.

Meski dianggap berjasa besar, warisan Greenspan tidak lepas dari kontroversi. Banyak ekonom menilai kebijakan suku bunga rendah yang diterapkannya ikut mendorong terbentuknya gelembung saham teknologi atau dot-com bubble pada akhir 1990-an.

Setelah gelembung tersebut pecah, Greenspan kembali memangkas suku bunga untuk menopang ekonomi. Namun kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memicu lonjakan harga properti dan krisis kredit perumahan subprime yang akhirnya berujung pada krisis keuangan global 2008.

Ekonom pemenang Nobel, Paul Krugman, termasuk salah satu kritikus yang menilai Greenspan terlalu lambat mencegah terbentuknya gelembung aset.

Pada 2008, Greenspan secara terbuka mengakui bahwa ia terlalu percaya pada kemampuan pasar untuk mengatur dirinya sendiri (self-regulation). Dalam kesaksiannya di Kongres AS, ia menyatakan telah menemukan "cacat" dalam keyakinan ekonominya mengenai pasar bebas.

Penghargaan dan Warisan

Sepanjang kariernya, Greenspan menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Presidential Medal of Freedom serta gelar kehormatan kebangsawanan dari Queen Elizabeth II.

Hingga usia lanjut, ia tetap aktif memberikan pandangan ekonomi dan sering menjadi narasumber media. Ia juga dikenal kritis terhadap kebijakan populis Presiden Donald Trump serta keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit.

Greenspan merayakan ulang tahunnya yang ke-100 pada Maret 2026. Kepergiannya menandai berakhirnya era salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ekonomi modern.

Bagi pendukungnya, Alan Greenspan adalah sosok yang membantu menjaga pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat selama dua dekade. Namun bagi para pengkritiknya, warisannya juga akan selalu dikaitkan dengan dua krisis besar pasar keuangan yang mengguncang dunia.   

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |