Harga Emas Bangkit dari Level Terendah

2 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin setelah sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan pada sesi sebelumnya. Kenaikan terjadi seiring meningkatnya optimisme terhadap proses perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut menekan harga minyak dunia.

Mengutip CNBC, Selasa (23/6/2026), harga emas spot tercatat naik 0,6% menjadi US$ 4.183 per ons. Sebelumnya, logam mulia tersebut sempat jatuh ke level terendah sejak 11 Juni pada perdagangan Jumat lalu.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus justru turun 1% dan ditutup pada level US$ 4.202,70 per ons.

Analis Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan bahwa pergerakan harga energi masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar logam mulia dalam jangka pendek.

"Harga energi akan tetap menjadi pendorong utama dalam jangka pendek bagi pasar logam mulia," ujar Hansen.

Perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang masih berlangsung di Swiss mengarah pada kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat meningkatkan pasokan minyak mentah ke pasar global.

Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak, sekaligus menciptakan sentimen positif bagi emas.

Harga Minyak Turun Tajam

Hansen menambahkan bahwa pasar melihat peluang meningkatnya suplai minyak global apabila kesepakatan antara kedua negara benar-benar tercapai.

"Kami melihat pembicaraan yang masih berlangsung dan cukup dinamis di Swiss antara AS dan Iran tetap mengarah pada sebuah kesepakatan yang pada dasarnya akan menambah pasokan baru minyak mentah ke pasar," kata Hansen.

Sejumlah mediator mengungkapkan pejabat AS dan Iran telah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan dalam putaran pertama perundingan yang berakhir lebih awal pada Senin pagi.

Meski demikian, sejumlah isu sensitif masih menjadi tantangan, termasuk ketegangan terkait Lebanon dan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Sentimen tersebut langsung memengaruhi pasar energi. Harga minyak mentah Brent tercatat merosot lebih dari 3% setelah kabar kemajuan perundingan tersebut diumumkan.

Penurunan harga minyak dinilai membantu meredakan kekhawatiran inflasi yang selama ini menjadi perhatian utama investor global.

Peluang Kenaikan Suku Bunga AS Masih Membayangi

Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 89%.

Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 61% sebelum pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan lalu.

Dari total 19 pejabat pembuat kebijakan The Fed, sebanyak sembilan orang masih meyakini suku bunga acuan perlu dinaikkan tahun ini.

Meski sering dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil sehingga menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi berbunga.

Dalam catatan riset yang dirilis Jumat lalu, Bank of America menyebut target harga emas di level US$ 6.000 per ons masih sulit tercapai dalam waktu dekat. Untuk mencapai level tersebut, pasar harus sepenuhnya menghapus ekspektasi kenaikan suku bunga dari perhitungan harga.

Meski demikian, Bank of America menilai faktor utama yang mendukung prospek kenaikan emas masih tetap berlaku, yakni kebijakan ekonomi makro Amerika Serikat yang dinilai tidak konvensional dan berpotensi menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |