Harga Minyak Dunia Makin Mahal, AS–Iran Kembali Memanas

21 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia menguat lebih dari 1% pada perdagangan Senin setelah Departemen Transportasi Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan kepada kapal berbendera AS agar menjauh sejauh mungkin dari wilayah Iran saat melintas di Selat Hormuz dan Teluk Oman.

Mengutip CNBC, Selasa (10/2/2026), harga minyak mentah Brent tercatat naik 99 sen atau 1,45% dan ditutup di level USD 69,04 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 81 sen atau 1,27% ke posisi USD 64,36 per barel.

Badan Administrasi Maritim di bawah Departemen Transportasi AS menyebutkan bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman secara historis menghadapi risiko dinaiki oleh pasukan Iran, termasuk kejadian terbaru pada 3 Februari.

Dalam imbauannya, otoritas AS meminta kapal berbendera AS untuk tetap berada dekat wilayah Oman saat berlayar ke arah timur di Selat Hormuz, jalur laut vital bagi perdagangan energi global.

Peringatan tersebut kembali memicu kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dapat berujung pada gangguan pasokan minyak dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak global diketahui melewati Selat Hormuz yang terletak di antara Oman dan Iran.

“Premi risiko Iran tidak bisa sepenuhnya dihilangkan selama kapal perang AS masih berada di posisi mereka saat ini,” ujar analis SEB, Bjarne Schieldrop.

Sulit Diprediksi

Sebelumnya, harga minyak sempat melemah dan melanjutkan penurunan pekan lalu, setelah AS dan Iran menyatakan akan melanjutkan pembicaraan tidak langsung menyusul diskusi yang dinilai positif oleh kedua belah pihak.

Namun, sentimen pasar kembali berubah setelah pada Sabtu lalu Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa negaranya akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah jika diserang oleh pasukan AS.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS memang dilaporkan meningkatkan kehadiran armada lautnya di kawasan tersebut.

Analis minyak UBS, Giovanni Staunovo, menilai situasi geopolitik saat ini sulit diprediksi.

“Sangat sulit menilai bagaimana perkembangannya,” ujarnya. “Kami memantau dari hari ke hari, sambil menunggu penetapan jadwal putaran kedua perundingan,” tambahnya.

Sentimen Lain

Selain ketegangan AS–Iran, investor juga mencermati upaya negara-negara Barat untuk membatasi pendapatan Rusia dari ekspor minyak yang menopang perang di Ukraina. Komisi Eropa telah mengusulkan larangan luas terhadap layanan apa pun yang mendukung ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut.

Di sisi lain, kilang minyak di India, yang sebelumnya menjadi pembeli terbesar minyak mentah Rusia via laut, dilaporkan mulai menghindari pembelian untuk pengiriman April. Analis Sparta menyebutkan, jika India benar-benar menghentikan pembelian minyak Rusia, hal tersebut dapat menjadi sentimen bullish yang berkelanjutan bagi pasar minyak.

Sementara itu, dari Kazakhstan, ladang minyak raksasa Tengiz yang dikelola Chevron dilaporkan telah pulih hingga sekitar 60% dari kapasitas puncak produksi dan menargetkan kembali ke produksi penuh pada 23 Februari.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |