Harga Emas Dunia Melaju Kencang, Dekati Rekor di Tengah Gejolak Global

2 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali mencatatkan kinerja impresif pada awal pekan ini, melanjutkan tren penguatan yang telah terbentuk sejak pekan lalu. Pada akhir perdagangan Jumat, emas (XAU/USD) bergerak di kisaran USD 4.507 per troy ounce, menguat sekitar 0,65 persen dan berada di jalur kenaikan mingguan hampir empat persen.

Penguatan harga emas mencerminkan kombinasi sentimen pasar yang dipengaruhi data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang beragam serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai secara teknikal struktur pergerakan emas masih berada dalam fase bullish yang semakin solid.

Menurut Andy, pola candlestick serta posisi indikator Moving Average menunjukkan konfigurasi positif yang mengindikasikan tekanan beli masih dominan.

"Meski harga emas telah berada di wilayah tertinggi sepanjang masa, momentum kenaikan dinilai belum sepenuhnya kehilangan tenaga," jelas dia dalam keterangan tertulis, Senin (12/1/2026).

Selama harga emas mampu bertahan di atas area support jangka pendek, peluang penguatan lanjutan masih terbuka. Namun, kondisi pasar yang sudah naik cukup tajam membuat pergerakan emas tetap rawan terhadap fluktuasi jangka pendek.

Koreksi Teknikal Perlu Diwaspadai

Dalam proyeksi harian, Andy Nugraha melihat peluang harga emas untuk melanjutkan kenaikan apabila tekanan bullish tetap terjaga. Target terdekat berada di area USD 4.600 per troy ounce, yang dinilai sebagai level psikologis penting bagi kelanjutan tren naik dalam jangka pendek.

Meski demikian, ia mengingatkan potensi koreksi teknikal tetap perlu diwaspadai. Jika harga gagal mempertahankan momentum dan mulai bergerak turun, area USD 4.536 dipandang sebagai zona support terdekat yang berpotensi menahan tekanan jual.

Dari sisi fundamental, reli harga emas mendapat dukungan kuat dari meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pada sesi Asia, Senin (12/1/2026), harga emas bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi baru di sekitar USD 4.555 per troy ounce.

Ketegangan internasional meningkat setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran, menyusul eskalasi protes berdarah di negara tersebut. Situasi ini mendorong investor mencari perlindungan pada aset yang dinilai lebih aman seperti emas.

Kebijakan Moneter Amerika Serikat

Selain itu, dinamika geopolitik di kawasan lain turut memperkuat sentimen safe haven. Inggris dan Jerman dikabarkan tengah membahas penguatan kehadiran militer di Greenland sebagai respons atas meningkatnya ketegangan global, termasuk pasca penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS.

Di luar faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi katalis penting bagi pergerakan harga emas. Data ketenagakerjaan AS menunjukkan Nonfarm Payrolls hanya bertambah sekitar 50.000 pada Desember, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 60.000. Namun, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,4 persen.

Kondisi tersebut memunculkan persepsi bahwa ekonomi AS masih relatif stabil, tetapi mulai menunjukkan perlambatan. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk memangkas suku bunga tahun ini, yang pada akhirnya mendukung harga emas.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang cenderung datar di kisaran 4,17 persen turut memberi ruang bagi emas bertahan di level tinggi. Meski bias bullish masih terjaga, pasar tetap mencermati rilis data inflasi AS sebagai penentu arah pergerakan harga emas selanjutnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |