Ekonomi Global 2026 Diramal Melandai, Ini Gara-garanya

2 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Danantara Indonesia menilai perekonomian global pada 2026 akan berada dalam fase perlambatan yang berkepanjangan, meski risiko guncangan ekstrem dinilai mulai mereda. 

Dalam laporan Danantara Economic Outlook 2026, tahun 2025 menjadi titik krusial bagi sistem perdagangan dan keuangan global yang sempat mengalami tekanan berat, namun terbukti tetap bertahan.

Danantara mencatat kebijakan proteksionisme, ketegangan geopolitik, serta pengetatan kondisi keuangan global telah mengguncang kepercayaan pelaku usaha dan investor. Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa sistem global tidak runtuh, melainkan memasuki fase penyesuaian baru.

“Ketika para sejarawan ekonomi di masa depan melihat kembali tahun 2025, mereka akan mengidentifikasikannya sebagai tahun ketika sistem perdagangan dan keuangan global menerima pukulan yang tampak mematikan namun tetap bertahan,” tulis Danantara dalam laporannya.

Memasuki 2026, ketidakpastian global dinilai mulai menurun, meskipun tingkatnya masih relatif tinggi. Namun, tantangan baru muncul karena mesin pertumbuhan di berbagai ekonomi utama melemah secara bersamaan. 

Amerika Serikat dinilai menghadapi risiko stagflasi akibat kombinasi kebijakan tarif, kebijakan imigrasi, dan siklus bisnis pascapandemi yang semakin matang. Sementara itu, Eropa dan Jepang dihadapkan pada tekanan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang yang membatasi ruang fiskal.

China juga disebut mengalami moderasi pertumbuhan setelah stimulus fiskal dan dorongan kredit yang dilakukan untuk mengantisipasi dampak tarif Amerika Serikat mulai berkurang. Kondisi ini menambah risiko perlambatan global yang lebih luas pada 2026.

Danantara menyebut fase ini sebagai periode transisi, di mana ekonomi global bergerak dari fase gejolak menuju stagnasi relatif. Dalam laporan tersebut ditegaskan, “Kisah 2026, dengan demikian, sebagian adalah tentang kembalinya status quo sebelumnya.”

Meski prospek global cenderung melemah, Danantara melihat peluang tetap terbuka, khususnya bagi negara berkembang yang memiliki permintaan domestik kuat dan kredibilitas kebijakan yang semakin baik. Dalam konteks ini, ekonomi global diperkirakan akan membengkok mengikuti siklus baru, tetapi tidak terfragmentasi atau terpecah menjadi blok-blok yang terpisah.   

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |