Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan prospek positif nilai tukar rupiah ke depan. Ia menilai, posisi rupiah saat ini masih undervalued dan berpeluang menguat seiring kuatnya fundamental ekonomi domestik.
Pernyataan itu disampaikan usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Menurut Perry, sejumlah indikator utama menunjukkan kondisi ekonomi nasional yang solid. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,61%, inflasi terkendali, penyaluran kredit meningkat, dan cadangan devisa berada di level yang memadai.
“Fundamental kita kuat. Dengan kondisi seperti ini, rupiah semestinya stabil dan cenderung menguat,” ujarnya dalam keterangan, Rabu (6/5/2026).
Meski begitu, ia mengakui ada tekanan jangka pendek yang masih membayangi pergerakan rupiah. Tekanan tersebut, kata Perry, dipicu oleh faktor global dan kebutuhan musiman di dalam negeri.
Dari sisi global, kenaikan harga minyak dan suku bunga di Amerika Serikat menjadi faktor utama. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 4,47%, diikuti penguatan USD terhadap sejumlah mata uang dunia.
Sementara dari dalam negeri, permintaan valas meningkat seiring kebutuhan repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan jemaah haji.
Menghadapi kondisi itu, Bank Indonesia telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satu yang utama adalah memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Perry menegaskan, posisi cadangan devisa Indonesia saat ini cukup kuat untuk mendukung langkah stabilisasi tersebut.
“Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” katanya.
Lapor ke Prabowo, Ini 7 Strategi BI Bangkitkan Rupiah
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan sejumlah arahan kepada Bank Indonesia guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, langkah-langkah ini menjadi bagian dari penguatan kebijakan moneter yang dikombinasikan dengan koordinasi erat bersama otoritas fiskal.
“Pak Presiden dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan. Tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia. Untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,” katanya di Istana Negara, disiarkan daring melalui Youtube @SekretariatPresiden, Selasa (5/5/2026).
Langkah pertama yang ditekankan adalah intervensi pasar secara agresif dan terukur. BI akan terus masuk ke pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Intervensi dilakukan melalui transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga intervensi di pasar offshore seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York. Menurut Perry, cadangan devisa Indonesia dinilai cukup untuk menopang langkah stabilisasi ini.
Kedua, BI fokus menjaga aliran modal asing tetap masuk. Di tengah tekanan outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham, instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) didorong untuk menarik kembali dana asing. Koordinasi dengan Kementerian Keuangan disebut berhasil menjaga arus portofolio tetap positif secara tahunan.
Langkah ketiga adalah pembelian SBN di pasar sekunder. Hingga saat ini, BI telah menyerap SBN senilai Rp123,1 triliun. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas pasar obligasi sekaligus memperkuat nilai tukar. Pemerintah juga membuka opsi buyback sebagai bagian dari strategi bersama fiskal dan moneter.
“Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan sebagainya. Koordinasi sangat keren antara fiskal dan moneter,” ungkapnya.
Likuiditas Perbankan
Keempat, BI memastikan likuiditas perbankan tetap longgar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1 persen. Kondisi likuiditas yang memadai diharapkan mampu meredam gejolak di pasar keuangan domestik.
Langkah kelima adalah pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying transaksi. Batas pembelian diturunkan dari 100 ribu dolar AS menjadi 50 ribu dolar AS per orang per bulan. Kebijakan ini diambil untuk menekan spekulasi di pasar valas domestik.
Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi. Pasar yuan-rupiah domestik mulai berkembang sebagai bagian dari diversifikasi, sehingga ketergantungan terhadap dolar AS bisa dikurangi.
“Sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar,” jelasnya.
Langkah keenam menyasar penguatan intervensi di pasar offshore melalui instrumen non-deliverable forward (NDF). BI kini juga mengizinkan bank domestik ikut berpartisipasi di pasar tersebut, sehingga suplai valas meningkat dan stabilitas rupiah lebih terjaga.
Terakhir, pengawasan diperketat. BI bersama Otoritas Jasa Keuangan meningkatkan monitoring terhadap perbankan dan korporasi, terutama yang memiliki kebutuhan dolar tinggi. Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di tengah dinamika global.
“Peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi. Yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi,” tandasnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5579571/original/011766200_1778057264-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557592/original/054383800_1776339190-IMG_2023.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550354/original/058667800_1775658157-IMG-20260408-WA0079.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5576003/original/009479800_1778049364-Menperin_Agus_Gumiwang_Kartasasmita-6_Mei_2026a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575405/original/044683800_1778047629-bgr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575422/original/002640800_1778048611-IMG_4235.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3532293/original/061990200_1628161552-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1400474/original/063702300_1478686860-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-04.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1369940/original/015660100_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5574920/original/091002700_1777995474-WhatsApp_Image_2026-05-05_at_22.34.34.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1474403/original/039587400_1484627111-BN-RO911_2RKmz_OR_20170111012519.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4465765/original/043413400_1686728194-Gedung_Kemenkeu_Jakarta.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,600,0)/kly-media-production/medias/5565462/original/087459900_1777024715-image1_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1230533/original/005867600_1463022069-Banner_Gaji_PNS.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5228650/original/009295800_1747893059-20250522-Job_Fair_Kemenaker-AFP_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5562094/original/020205200_1776778989-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-21_April_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2172325/original/001382600_1525690405-Investasi-Meningkat_-Ekonomi-Indonesia-Kuartal-1-Tumbuh-5_06_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496712/original/067203300_1770596625-stasiun_pengisian_kendaraan_listrik_umum__SPKLU_.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4166753/original/096704000_1663802133-Harga_Minyak_Dunia_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5350921/original/021950500_1758011042-Gemini_Generated_Image_5ndq1c5ndq1c5ndq.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500395/original/031439800_1770863987-IMG_9906.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469930/original/003679600_1768191721-Depositphotos_20063789_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457952/original/085391400_1767067413-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3188318/original/047441700_1595493633-20200723-Usai-Cetak-Rekor_-Harga-Emas-Antam-Kembali-Turun-IQBAL-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534516/original/032481400_1773830288-6_25_juta_orang_berangkat_mudik_menggunakan_angkutan_umum-18_Maret_2026a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5219631/original/022997400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2849793/original/011745700_1562754395-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484480/original/028747100_1769432326-Foto_1.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3352151/original/051235700_1610959710-20210118-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469281/original/057718200_1768104586-9f62b254-8045-4ab0-aad2-b2a48678402b.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454645/original/011893600_1766566110-kalender_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495045/original/053747100_1770352755-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3149800/original/042221500_1591853664-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484428/original/077512500_1769425772-WhatsApp_Image_2026-01-26_at_18.02.15.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1770927/original/084181900_1510736171-Nikel.jpg)