Pengamat: MSCI jadi Salah Satu Faktor BI Rate Naik Lagi

5 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% menuai sorotan. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, langkah tersebut tidak sepenuhnya didorong oleh kebutuhan menjaga stabilitas rupiah, melainkan sebagai respons terhadap sejumlah risiko eksternal yang membayangi ekonomi Indonesia.

"Saya pun juga enggak habis pikir Bank Indonesia ya dalam pertemuan hari ini menaikkan suku bunga," kata Ibrahim kepada media, Kamis, (18/6/2026).

Menurut Ibrahim, terdapat dua faktor besar yang kemungkinan menjadi pertimbangan BI dalam mengambil kebijakan tersebut, yakni keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait status pasar modal Indonesia serta meningkatnya kembali tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Ibrahim heran dengan keputusan BI menaikkan suku bunga di tengah kondisi harga minyak dunia yang justru mengalami penurunan setelah kembali normalnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Dia menuturkan, jika melihat perkembangan global saat ini, seharusnya BI masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga acuan. Ia menilai, salah satu alasan yang mungkin melatarbelakangi keputusan tersebut adalah kekhawatiran terhadap keputusan MSCI yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

"Mungkin ada ketakutan ya bagi Bank Indonesia ini karena dalam minggu-minggu ini ya dalam bulan-bulan Juni ya MSCI ini akan memberikan satu keputusan ya apakah status Indonesia dipertahankan di emerging market atau ya apakah pembekuan constituentnya akan dicabut. Jadi, ada dua tema besar yang akan dibuat oleh Bank Indonesia," ujar dia. Perang Dagang

Selain faktor MSCI, Ibrahim menilai, BI juga mempertimbangkan risiko yang berasal dari meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China.

Ia menyoroti, langkah Amerika Serikat yang kembali memberikan sanksi terhadap sejumlah perusahaan teknologi asal China. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu ketidakpastian baru di pasar keuangan global.

"Kemudian di sisi lain pun juga tentang masalah perang dagang. Ya perang dagang ini sudah mulai kembali mengemuka apalagi setelah Amerika memberikan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan teknologi di Tiongkok," ujarnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |