Harga BBM Solar di SPBU BP Turun, Harganya Sekarang Segini

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) bp kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak ( harga BBM) untuk jenis solar atau BP Ultimate Diesel. Harga BBM jenis ini turun dari Rp 30.890 per liter pada awal Mei 2026, menjadi Rp 29.890 per liter.

Dikutip dari laman Instagram resmi BP Indonesia bp_idn di Jakarta, Jumat (8/5/2026), penyesuaian harga hanya berlaku untuk BBM jenis solar. Sementara bensin jenis BP Ultimate masih berada di level Rp 12.930 per liter, dan  BBM jenis BP 92 dipatok Rp 12.390 per liter.

Sementara pesaingnya, Vivo mengumumkan harga BBM terbaru di SPBU kelolaannya per 2 Mei 2026. Produk BBM jenis gasoil, yakni Diesel Primus (CN 51) tercatat mengalami lonjakan harga.

Mengutip laporan dari akun Instagram resmi @spbuvivo, harga Diesel Primus dibanderol menjadi Rp 30.890 per liter. Naik Rp 16.280 dari sebelumnya Rp 14.610 per liter.

Di sisi lain, Vivo tidak melakukan penyesuaian harga untuk BBM jenis gasoline miliknya, yakni Revvo 92 (RON 92). Produk ini tetap dijual di harga Rp 12.390 per liter.

Sekadar info, Harga BBM berubah-ubah biasanya karena mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia, melemahnya nilai tukar hingga penyesuaian biaya lainnya. 

SPBU Swasta Sudah Beli Solar Pertamina, Impor Resmi Dihentikan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU swasta telah membeli BBM jenis Solar sepenuhnya dari Pertamina.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, fasilitasi penyaluran Solar tersebut telah dilakukan oleh Pertamina sejak mendapatkan mandat. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menghentikan impor Solar pada 2026.

"Sudah (jalan penyaluran Solar oleh Pertamina ke SPBU swasta). Sebenarnya kan sejak diumumkan itu sudah dilakukan pertemuan-pertemuan," ujar Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Sehingga, BBM jenis gasoil yang ada di SPBU swasta saat ini sejatinya berasal dari Pertamina, yang kemudian diolah oleh masing-masing badan usaha menjadi produk dengan tingkat setana (cetane number/CN) berbeda-beda.

"Dan kalau ditanya ke swasta itu pasti sudah ada, coba aja tanya," imbuh Laode.

Adapun Kementerian ESDM telah meminta SPBU swasta, seperti Shell, bp, dan Vivo, untuk segera melakukan negosiasi dengan Pertamina terkait pembelian solar produksi dalam negeri.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tidak akan memperpanjang tambahan kuota impor solar mulai 2026.

Mulai Proses Negosiasi Desember 2025

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman pada Januari 2026 lalu mengatakan, pemerintah telah mengirimkan surat kepada seluruh badan usaha sejak Desember 2025 agar segera memulai proses negosiasi tersebut.

“Kami bulan Desember kemarin sudah mengirimkan surat ke seluruh badan usaha untuk melakukan proses negosiasi dengan Pertamina,” ucap Laode beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan, tambahan kuota impor solar jenis CN 48 tidak akan diperpanjang mulai Maret 2026. Karena itu, SPBU swasta diharapkan mulai beralih menggunakan pasokan solar dari dalam negeri.

Laode menjelaskan, produksi solar dari Kilang Balikpapan yang baru direvitalisasi melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) akan menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan domestik, termasuk bagi SPBU swasta.

Sehingga, RDMP Balikpapan pada April 2026 sudah bisa memasok seluruh kebutuhan untuk Pertamina dan badan usaha lainnya.

“Maret nanti kami sudah tidak bisa memperpanjang untuk tambahan kuota solar. Jadi dari produksi RDMP (Balikpapan) itu semua nanti diserap untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” kata Laode.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |