Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) pada 20–21 Mei 2025 memutuskan untuk menurunkan BI Rate menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,25%.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa keputusan penurunan suku bunga ini didasarkan pada tiga pertimbangan utama yang mencerminkan kondisi perekonomian nasional saat ini.
"Kami menurunkan BI-Rate sebesar 25 basis poin. Pertimbangannya, pertama, inflasi yang rendah. Kedua, stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga. Ketiga, mendorong pertumbuhan ekonomi secara sinergis dengan kebijakan fiskal dan kebijakan pemerintah lainnya dalam program Asta Cita," ujar Perry dalam konferensi pers RDG Mei 2025 yang digelar secara virtual, dikutip Kamis (22/5/2025).
Berikut rincian alasan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan:
1. Inflasi yang Rendah
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) April 2025 tercatat sebesar 1,95% (yoy), dengan inflasi inti terkendali di angka 2,50% (yoy), sejalan dengan kebijakan BI untuk menjaga ekspektasi inflasi.
Inflasi kelompok volatile food (VF) sebesar 0,64% (yoy) didukung pasokan pangan utama yang cukup dan sinergi pengendalian inflasi melalui TPIP/TPID dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Kelompok administered prices mencatat inflasi 1,25% (yoy) setelah mengalami deflasi 3,16% (yoy) pada Maret 2025, dipengaruhi berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik untuk pelanggan dengan daya di bawah 2.200 VA.
BI memprakirakan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2025–2026. Inflasi inti terjaga karena ekspektasi inflasi yang stabil, kapasitas ekonomi yang memadai, inflasi impor yang rendah, dan dampak positif digitalisasi.
2. Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah tetap stabil dan cenderung menguat, didukung kebijakan stabilisasi BI dan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global.
Hingga 20 Mei 2025, rupiah menguat 1,13% (ptp) dibandingkan posisi akhir April 2025. Rupiah juga menguat terhadap mata uang negara berkembang mitra dagang dan negara maju (non-dolar AS).
BI memprakirakan nilai tukar tetap stabil berkat komitmen menjaga stabilitas, imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek ekonomi yang positif.
Kebijakan stabilisasi diperkuat melalui intervensi terukur di pasar offshore NDF dan strategi triple intervention pada transaksi spot, DNDF, dan SBN sekunder. Optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI juga dilakukan untuk menarik aliran modal asing dan menjaga kestabilan rupiah.
3. Pertumbuhan Ekonomi Perlu Didorong
Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2025 tercatat 4,87% (yoy), menurun dari 5,02% (yoy) pada triwulan IV 2024. Pertumbuhan ditopang konsumsi rumah tangga yang meningkat saat libur tahun baru dan Idulfitri.
Untuk triwulan II 2025, BI melihat perlunya memperkuat dorongan terhadap kegiatan ekonomi. Pertumbuhan diperkirakan membaik pada semester II 2025, seiring peningkatan permintaan domestik dan belanja pemerintah.
Dengan mempertimbangkan kondisi global dan realisasi triwulan I, pertumbuhan ekonomi 2025 diperkirakan berada di kisaran 4,6–5,4%, sedikit di bawah prakiraan sebelumnya (4,7–5,5%).
BI menilai penguatan permintaan domestik dan optimalisasi ekspor perlu terus didorong. Bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan digitalisasi sistem pembayaran disinergikan dengan kebijakan fiskal, termasuk program Asta Cita pemerintah.
4. Penyaluran Kredit Perbankan Masih Lemah
Perry menyebutkan bahwa rendahnya pertumbuhan kredit menjadi alasan tambahan BI menurunkan BI-Rate.
“Peran kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi perlu terus ditingkatkan,” katanya dalam RDG Mei 2025.
Pertumbuhan kredit perbankan April 2025 tercatat 8,88% (yoy), turun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 9,16% (yoy). BI memprakirakan pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 8–11%.
Ke depan, penyaluran kredit perlu ditingkatkan melalui penurunan suku bunga, perluasan sumber dana, serta peningkatan permintaan dari sektor riil guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.