BI Pastikan Cadangan Devisa Masih Kuat Jaga Rupiah

15 hours ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memastikan cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman dan lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bank sentral telah meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing guna meredam tekanan terhadap rupiah. Intervensi dilakukan melalui pasar spot, instrumen lindung nilai (hedging), hingga transaksi forward.

Meski intervensi diperbesar, Perry menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di atas standar kecukupan internasional yang ditetapkan Dana Moneter Internasional (IMF) melalui indikator Assessing Reserve Adequacy (ARA).

Menurut dia, skor ARA Indonesia saat ini masih berada di atas level 100 yang menjadi batas aman minimum.

“Jadi, kami pastikan cadangan devisa lebih dari cukup. Masih lebih dari cukup, sehingga dosis intervensinya kami naikkan,” ujar Perry dalam Rapat Kerja bersama DPR RI, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, langkah intervensi di pasar valuta asing menjadi salah satu strategi utama BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global dan penguatan dolar AS.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga berupaya memastikan likuiditas valas di pasar domestik tetap terjaga agar aktivitas ekonomi dan investasi tidak terganggu.

Intervensi di Pasar Valas

Selain melakukan intervensi di pasar valas, Bank Indonesia juga meningkatkan tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi 6,41 persen.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk menarik arus modal asing masuk atau capital inflow sehingga dapat memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri.

Perry mengatakan langkah tersebut cukup efektif. Hingga 18 Mei 2026, arus modal bersih melalui instrumen SRBI tercatat mencapai USD 105,16 miliar secara year to date.

“Kenapa kami meningkatkan bunga SRBI? Supaya net inflow masih terjadi. Alhamdulillah itu mencatat inflow, sehingga menambah pasokan valas di dalam negeri,” kata Perry.

Menurut dia, masuknya modal asing menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keseimbangan pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

BI juga terus memantau perkembangan pasar keuangan internasional, termasuk pergerakan suku bunga global dan sentimen investor terhadap negara berkembang.

Memperluas Transaksi Yuan-Rupiah

Dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, Bank Indonesia juga memperluas transaksi yuan-rupiah di pasar domestik.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperbesar penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi sehingga tekanan terhadap permintaan dolar AS bisa berkurang.

Selain itu, BI juga akan memperketat pembelian dolar AS tunai di pasar domestik tanpa underlying transaksi. Mulai Juni 2026, batas pembelian akan diturunkan dari sebelumnya USD 50 ribu menjadi USD 25 ribu per pelaku per bulan.

“Hal ini kami lakukan supaya yang beli dolar AS adalah yang betul-betul membutuhkan,” ujar Perry.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing sekaligus memastikan penggunaan dolar AS lebih terkendali di tengah meningkatnya permintaan valas global.

Dengan kombinasi intervensi pasar, penguatan instrumen investasi, dan pengendalian permintaan dolar AS, BI optimistis stabilitas rupiah tetap dapat terjaga dalam beberapa waktu ke depan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |