Wamenkeu Beberkan Beban APBN 'Dihajar' Kenaikan Harga Minyak Imbas Perang AS-Iran

21 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkapkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ketika terjadi gejolak geopolitik di Timur Tengah. Salah satunya, pengaruh kenaikan harga minyak dunia.

Juda menuturkan, kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh pada beban yang ditanggung APBN. Ketika Indonesia Crude Price (ICP) naik saat menyesuaikan harga global, maka beban fiskal otomatis bertambah.

"Sebenarnya di nota keuangan kita kan sudah ada sensitivity analysis. Satu dolar kenaikan ICP itu menyebabkan kenaikan defisit Rp 6,8 triliun," ujar Juda dalam Indonesia Economic Forum 2026, Rabu (4/3/2026) malam.

Di sisi lain, setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS, maka dampaknya sekitar Rp 800 miliar. Jika yield naik p,1 persen maka akan menambah beban Rp 1,9 triliun defisit.

"Kalau ICP harga minyak naik dampaknya bukan hanya kepada harga minyak, tentu saja kepada inflasi kita, kepada nilai tukar, kepada yield kita," ungkapnya.

Juga memastikan pemerintah telah melakukan stress test pada skenario yang paling masuk akal. "Dan stress test yang kami lakukan pada skenario yang sangat plausible (masuk akal), yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah 3 persen," tutur Juda.

Bagaimana Kalau Melambung Tinggi?

Juda melihat kemungkinan APBN tak mampu memikul beban ketika harga minyak dunia melambung hingga USD 100-150 per barel.

"Jadi yang katakanlah sampai misalnya harga minyak di atas 100-150 (dolar per barel), well tentu saja ini berdampak. Kan gak ada desain fiskal yang meng-cover begitu extreme gitu kan. Tentu saja itu dampaknya cukup signifikan kepada APBN," jelas dia.

Hanya saja, jika kenaikan harga minyak dunia masih berkisar di USD 75 per barel, defisit APBN dan target pertumbuhan ekonomi dijamin tetap positif.

"Kita lihat dalam horizon misalnya katakanlah sekarang harga minyak 70-72 (dolar per barel) dan sebagainya itu kan juga masih sama dengan APBN kita. Ya katakanlah naik sampai 75 pun di dalam skenario kami masih di dalam range APBN, baik defisit maupun dari sisi pertumbuhan ekonomi," tandas mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini.

Harga Minyak Dunia Bisa Naik Lagi

Harga minyak dunia sempat terkerek imbas memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Lantas, apa kenaikan ini akan membebani subsidi energi di Tanah Air?

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto menilai ada kemungkinan kenaikan harga minyak dunia kembali naik seiring eskalasi di Timur Tengah. Namun, soal kemungkinan membebani subsidi, harus dilihat tingkat kenaikan harga minyak dunia ke depan.

"Ya mangkanya harus perlu dilihat. Sustain enggak? Apakah (harga minyak dunia) naiknya tinggi terus?," kata Seto, ditemui di Kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Senin (2/3/2026).

Beban Subsidi Energi Bertambah?

Diketahui, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh USD 78,2 per barel. Angka ini lebih tinggi dari Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 dengan USD 70 per barel.

Seto mengatakan, kenaikan harga minyak dunia ini masih harus dipantau kedepannya. Kemudian, baru bisa didapat hitungan pengaruhnya terhadap beban APBN atas subsidi energi.

"Kalau kita lihat kemarin perang Rusia, Ukraina, atau kemarin yang tahun lalu serangan Israel ke Iran, kan sempat naik tapi langsung turun lagi. Jadi kita lihat lah. Mungkin satu minggu ke depan," tutur dia.

Biaya Logistik Naik

Dia menjelaskan lagi, penutupan Selat Hormuz berkepanjangan bisa semakin menekan harga energi. Termasuk juga pengaruhnya terhadap biaya logistik.

"Kalau itu harus dilihat. Makanya kalau nanti selat hormusnya eskalasinya terus, selat hormusnya ditutup, ya mungkin itu akan... cukup problematik lah," kata dia.

"Tapi ya tadi saya bilang, kita sabar, kita lihat satu minggu ke depan, ya mudah-mudahan kita doakan ini bisa cepat selesai gitu ya. Ada jalan damai lah," imbuh Seto.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |