Top 3: Miliarder Dunia Diprediksi Tembus 4.000 Orang pada 2031

10 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah miliarder di dunia diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, angkanya diproyeksikan mendekati 4.000 orang pada 2031, seiring percepatan akumulasi kekayaan di kalangan super kaya.

Dikutip dari The Guardian, Sabtu, 25 April 2026, berdasarkan analisis perusahaan properti global Knight Frank, saat ini terdapat sekitar 3.110 miliarder di seluruh dunia. Jumlah tersebut diperkirakan akan naik 25% dalam lima tahun ke depan menjadi sekitar 3.915 orang.

Tidak hanya miliarder, kelompok individu dengan kekayaan ultra tinggi juga tumbuh pesat. Jumlah orang dengan kekayaan minimal 30 juta dolar AS melonjak drastis, dari 162.191 orang pada 2021 menjadi 713.626 orang saat ini—naik lebih dari 300%.

Kepala riset Knight Frank, Liam Bailey, menyebut lonjakan kekayaan ini didorong oleh sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).

“Kemampuan untuk mengembangkan bisnis dalam skala besar belum pernah setinggi ini,” ujarnya.

Menurut Bailey, perkembangan teknologi dan AI mempercepat proses penciptaan kekayaan dalam waktu singkat.

“Hal ini mendorong kemampuan untuk menghasilkan kekayaan besar dengan cepat, yang dipercepat oleh teknologi dan AI,” katanya.

Secara geografis, pertumbuhan miliarder diperkirakan paling cepat terjadi di Arab Saudi, negara kaya minyak. Jumlah miliarder di negara tersebut diproyeksikan melonjak dari 23 orang pada 2026 menjadi 65 orang pada 2031.

Artikel Era Super Kaya: Miliarder Dunia Diprediksi Tembus 4.000 Orang pada 2031 menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Minggu, (26/4/2026):

1. Era Super Kaya: Miliarder Dunia Diprediksi Tembus 4.000 Orang pada 2031

Jumlah miliarder di dunia diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, angkanya diproyeksikan mendekati 4.000 orang pada 2031, seiring percepatan akumulasi kekayaan di kalangan super kaya.

Dikutip dari The Guardian, Sabtu, 25 April 2026, berdasarkan analisis perusahaan properti global Knight Frank, saat ini terdapat sekitar 3.110 miliarder di seluruh dunia. Jumlah tersebut diperkirakan akan naik 25% dalam lima tahun ke depan menjadi sekitar 3.915 orang.

Tidak hanya miliarder, kelompok individu dengan kekayaan ultra tinggi juga tumbuh pesat. Jumlah orang dengan kekayaan minimal 30 juta dolar AS melonjak drastis, dari 162.191 orang pada 2021 menjadi 713.626 orang saat ini—naik lebih dari 300%.

Kepala riset Knight Frank, Liam Bailey, menyebut lonjakan kekayaan ini didorong oleh sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).

“Kemampuan untuk mengembangkan bisnis dalam skala besar belum pernah setinggi ini,” ujarnya.

Menurut Bailey, perkembangan teknologi dan AI mempercepat proses penciptaan kekayaan dalam waktu singkat.

“Hal ini mendorong kemampuan untuk menghasilkan kekayaan besar dengan cepat, yang dipercepat oleh teknologi dan AI,” katanya.

Berita selengkapnya baca di sini

2. Rupiah Tertekan terhadap Dolar AS, Biaya Bahan Baku Impor Naik

 Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melihat dampak langsung dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Biaya impor sejumlah sektor industri langsung terdampak pelemahan ini.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani menyampaikan, pelemahan rupiah menjadi tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Apalagi, bagi perusahaan yang masih memasok bahan baku dari impor.

"Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri," kata Shinta kepada Liputan6.com, Sabtu (25/4/2026).

Dia mencatat, 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan begitu, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah.

"Dalam konteks ini, beban impor bahan baku memang terdampak secara relatif cepat, meskipun tingkat pass-through ke harga akhir bervariasi tergantung sektor dan kondisi permintaan," ucap dia.

Shinta mencatat, sektor yang paling rentan adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi seperti petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi.

Berita selengkapnya baca di sini

3. Harga Emas Dunia Menguat Jelang Akhir Pekan, Ini Pemicunya

Harga emas menguat pada Jumat, 24 April 2026. Namun, harga emas dunia tetap berada di jalur koreksi mingguan pertama dalam lima minggu. Hal ini karena kekhawatiran inflasi yang masih ada dan ketidakpastian situasi perang Amerika Serikat (AS)-Iran membuat pasar tetap waspada.

Mengutip CNBC, Sabtu (25/4/2026), harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi USD 4.724,19 per ounce, setelah naik lebih dari 1% pada awal sesi, dan turun lebih dari 2% pada pekan ini.

Harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni naik 0,4% menjadi USD 4.741,30.

Logam mulia ini merosot sepanjang Maret karena perang AS-Iran memperkuat dolar AS dan memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi yang membebani permintaan emas.

Sementara itu, harga perak spot naik 0,6% menjadi USD 75,86 per ounce, platinum bertambah 0,7% menjadi USD 2.019,53 dan paladium naik 2,1% menjadi USD 1.499,41.

Berita selengkapnya baca di sini

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |