Tarif AS Masih Bayangi Prospek Ekonomi Global pada 2026

22 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai penetapan tarif bea masuk Amerika Serikat (AS) masih akan berpengaruh pada pergerakan ekonomi global. Selain itu, perbedaan pertumbuhan ekonomi tiap negara juga menjadi catatan lainnya.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti mengatakan, tarif AS menjadi salah satu faktor yang akan berpengaruh pada ekonomi global. Selain tarif resiprokal yang sebelumnya ditetapkan, AS juga mengancam pengenaan tarif buat negara-negara Eropa.

"Baru saya lihat bahwa Amerika lagi mengancam dia akan menggunakan tarif buat negara-negara di Eropa yang against (tak sepakat) dengan niatnya untuk menguasai Greenland, dan dia selalu mengancam, 'oke saya akan kenakan tarif'," ungkap Destry saat Starting Year Forum 2026, di St Regis, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Meski itu merupakan gertakan awal, tetapi dampaknya bisa saja terasa jika Presiden AS, Donald Trump benar-benar menerapkannya. Destry melihat dampaknya akan meningkatkan biaya produksi di negara-negara lain, dan mengerek harga di hilir.

"Dampaknya tentu pertama itu akan meningkatkan biaya dari cost of production di suatu negara, dan itu akan mempengaruhi harga juga akan naik. Kemudian juga tentunya ekspor juga akan terganggu," ujarnya.

Destry mengatakan, masalah tersebut membuktikan urusan politik suatu negara bisa berpengaruh pada aspek ekonomi global. "Jadi kemudian permasalahan yang tadi geopolitik bisa akhirnya masuk ke permasalahan di ekonomi," tuturnya.

Pertumbuhan Ekonomi Tak Merata

Selain itu, Destry juga menyoroti tingkat pertumbuhan ekonomi negara yang tidak merata. Negara maju diproyeksikan melemah pada 2026.

"Jadi kita lihat negara maju ini termasuk Amerika, itu diperkirakan 2026 ini akan menghadapi pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih redah dibandingkan 2025. Termasuk beberapa negara maju lainnya seperti Jepang ataupun Eropa," ujarnya.

Sementara itu, negara berkembang seperti India dan Indonesia cenderung masih stabil di angka tinggi. Walaupun ada penurunan, tapi angkanya masih lebih stabil.

"Termasuk di Indonesia, dengan pertumbuhan kita yang relatif stabil di 5, bahkan di 2025 juga kita masih memperkirakan 5 itu bisa tercapai. Karena kami pakai range dari 4,7 sampai 5,5 persen," tutur dia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |