Tanpa Impor, Indonesia Sanggup Produksi 100 Jembatan Bailey per Bulan

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) menyatakan kesiapan penuh industri konstruksi baja nasional untuk membangun 100 unit Jembatan Bailey perbulan tanpa ketergantungan impor, dengan memanfaatkan kapasitas produksi dan keahlian dalam negeri.

Ketua Umum ISSC, Budi Harta Winata menegaskan bahwa seluruh komponen utama Jembatan Bailey dapat diproduksi oleh industri baja nasional yang tergabung dalam ISSC, baik dari sisi material, fabrikasi, maupun pelaksanaan konstruksi di lapangan.

“Industri baja dan konstruksi nasional sudah sangat siap. Pembangunan 100 Jembatan Bailey perbulan dapat dilakukan 100% menggunakan produk dalam negeri, tanpa harus mengandalkan impor,” tegasnya, Kamis (1/1/2026).

Jembatan Bailey merupakan solusi strategis untuk percepatan konektivitas, terutama di daerah terpencil, wilayah perbatasan, serta area terdampak bencana. Dengan desain modular dan sistem pemasangan yang cepat, jembatan ini dapat dibangun secara efisien dengan tetap memenuhi standar keselamatan dan mutu.

ISSC menilai bahwa pemanfaatan produk baja nasional tidak hanya mempercepat pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian dalam negeri, termasuk peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penyerapan tenaga kerja, serta penguatan industri baja nasional.

“Momentum pembangunan infrastruktur harus menjadi peluang untuk memperkuat kemandirian industri nasional. ISSC siap mendukung penuh program pemerintah dalam membangun jembatan Bailey yang andal, berkualitas, dan berbasis *material produk baja dalam negeri yang telah tersertifikasi SNI dan TKDN sesuai regulasi pemerintah Indonesia*” tambah BUDI HARTA WINATA

ISSC berharap kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan pelaku industri dapat terus diperkuat guna mewujudkan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan dan berdaulat secara industri.

Usai Terdampak Banjir, 2 Jembatan Bailey di Aceh Rampung Dipasang

Saat bencana memutus akses, yang terhenti bukan hanya jalan, tetapi juga aktivitas warga. PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) mendukung pemulihan konektivitas melalui pemasangan Jembatan Bailey Mengkudu sepanjang 36 meter dan Jembatan Bailey Penanggalan sepanjang 48 meter pada Jalan Lintas Tengah ruas Kutacane–Blangkejeren di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

"Pekerjaan ini ditujukan untuk memulihkan mobilitas masyarakat serta menjaga kelancaran arus logistik dan bantuan selama masa pemulihan pascabencana," kata Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah.

Pemasangan dilakukan di dua lokasi. Jembatan Mengkudu berada di Desa Katimaju, Kecamatan Darul Hasanah, sedangkan Jembatan Penanggalan berada di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe. Keduanya berada pada koridor Lintas Tengah yang menjadi akses penting bagi aktivitas harian warga dan distribusi kebutuhan dasar.​ Jembatan Mengkudu mulai dapat dilintasi dan Jembatan Penanggalan pada Minggu, dengan durasi pekerjaan masing-masing 15 hari dan 6 hari.​

Secara teknis, Jembatan Mengkudu memiliki panjang 36 meter dengan lebar efektif 3,7 meter dan tinggi truss 2,4 meter. Jembatan ini memiliki kapasitas beban kendaraan maksimum 40 ton sehingga dapat dilalui kendaraan angkutan termasuk truk.

Sementara itu, dengan bentang yang panjang, Jembatan Penanggalan memiliki panjang 48 meter dengan lebar efektif 3,7 meter dan tinggi truss 3,25 meter, mampu dilalui oleh kendaraa dengan kapasitas beban maksimum 40 ton sehingga mendukung kelancaran angkutan logistik.​

Jembatan Mengkudu dipasang di atas box culvert pada aliran air pegunungan menuju Sungai Alas. Sementara itu, Jembatan Penanggalan berada pada aliran air pegunungan menuju Sungai Alas.

Sebelum jembatan berfungsi, akses sempat terputus dan masyarakat mengandalkan lintasan darurat, termasuk akses sementara di sisi box culvert di Mengkudu serta melintas di atas box culvert eksisting di Penanggalan.

Pemulihan Akses Jalan

Pembuatan tanggul dan pengalihan aliran sungai dilakukan di sekitar Sungai Jembatan Natam untuk mengurangi risiko luapan yang kembali memutus akses. Pada titik ini, pengalihan aliran dilakukan ke bawah jembatan lama.

Setelah itu, akses darat disiapkan dengan timbunan. Tujuannya menghubungkan jalan dari Kecamatan Badar menuju Kecamatan Darul Hasanah. Akses tersebut sempat terputus akibat jembatan rusak.

Normalisasi sungai juga dikerjakan di Simpur Jaya guna memperlancar aliran dan mempercepat pembersihan material bawaan banjir. Di sisi konektivitas, Hutama Karya membuka jalan akses baru pada ruas Kutacane–Gayo Lues, serta melakukan pembersihan lumpur dan longsoran pada Jalan Akses Ketambe dan Jalan Naga Kesiangan.

Pembukaan akses juga dilakukan pada sejumlah titik permukiman, antara lain Tangsaran, Tetumpun, Ise-ise, dan Rikit Gaib, agar mobilitas warga dan distribusi kebutuhan dasar dapat kembali berjalan.

Pelaksanaan Pekerjaan

Dalam pelaksanaan, pekerjaan meliputi perakitan modul Bailey, pembentukan oprit, pemasangan lantai jembatan, pengujian beban, serta pemasangan rambu. Hutama Karya mengerahkan crane 50 ton dan excavator, didukung 10 personel dengan pola kerja 12 jam untuk menjaga ketepatan waktu pekerjaan di lapangan. Arus lalu lintas selama pekerjaan diatur secara bergiliran tanpa pembatasan jam lintas, disertai pengamanan area kerja dan penempatan rambu untuk menjaga keselamatan pengguna jalan.

Mardiansyah, menyampaikan bahwa pemasangan Bailey ini menjadi bagian dari upaya pemulihan akses darat pascabencana di Aceh.

“Kembali berfungsinya ruas Lintas Tengah di dua titik tersebut, mobilitas warga dan distribusi logistik diharapkan kembali lancar pada masa tanggap darurat hingga transisi pemulihan.” tutupnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |