Selat Hormuz Memanas, Iran Kirim Peringatan Keras ke Kapal Tanker Minyak

1 hour ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz agar meningkatkan kewaspadaan di tengah memanasnya konflik di kawasan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Senin mengatakan kapal tanker yang melewati jalur strategis itu harus ekstra berhati-hati.

“Selama situasi masih tidak aman, saya pikir semua kapal tanker dan seluruh aktivitas pelayaran harus sangat berhati-hati,” ujar Baghaei dikutip dari CNBC, Selasa (10/3/2026).

Peringatan tersebut disampaikan ketika harga minyak dunia melonjak tajam hingga melampaui USD 100 per barel setelah Selat Hormuz praktis tertutup akibat konflik yang meningkat.

Baghaei yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Diplomasi Publik Iran menegaskan negaranya siap menghadapi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel selama diperlukan.

Dalam wawancara dengan CNBC, Baghaei menyatakan Iran akan terus melawan Amerika Serikat dan Israel selama konflik berlangsung.

Ia juga mengatakan Iran telah mempersiapkan berbagai kemungkinan, termasuk potensi invasi darat.

Selain itu, Baghaei menyebut rakyat dan institusi negara Iran akan bersatu di bawah kepemimpinan pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei.

Mojtaba Khamenei Gantikan Sang Ayah

Mojtaba Khamenei ditunjuk pada akhir pekan lalu untuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada hari pertama perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

“Institusi negara, rakyat, dan para pejabat telah menunjukkan bahwa mereka akan bersatu di sekitar kepemimpinan baru,” kata Baghaei.

Ia juga menolak pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Washington seharusnya memiliki peran dalam menentukan pemimpin Iran.

“Saya pikir ini adalah prinsip dasar hukum internasional dan etika bahwa setiap bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan pihak asing,” kata Baghaei.

Baghaei juga menanggapi serangan Iran terhadap sejumlah negara Teluk, termasuk fasilitas desalinasi di Bahrain, kilang minyak di Arab Saudi, serta infrastruktur sipil di Uni Emirat Arab.

Ia menegaskan Iran melakukan tindakan tersebut sebagai bentuk pertahanan diri.

“Kami hanya membela negara kami dari para agresor,” kata Baghaei.

Serangan ke Pangkalan Militer AS

Ia juga menyatakan bahwa serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut dianggap sah menurut hukum internasional.

“Apa yang kami lakukan terhadap pangkalan militer dan aset milik agresor, yaitu Amerika Serikat di kawasan ini, adalah sah menurut hukum internasional,” ujarnya.

Baghaei menambahkan Iran bertindak berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memberikan hak kepada negara untuk membela diri.

“Kami mempertahankan diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB. Semua pangkalan militer, instalasi, dan aset yang digunakan untuk membantu para agresor dianggap sebagai target yang sah,” kata dia.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |