Rupiah Tembus Rp 16.800, Menkeu Purbaya Pede Menguat 2 Pekan Lagi

4 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan menguat dalam dua pekan kedepan. Keyakinan investor digadang menjadi salah satu faktornya.

Diketahui, rupiah sempat loyo di level Rp 16.870 per dolar AS. Itu menguat dari sebelumnya yang menyentuh Rp 16.877 per dolar AS. Purbaya meyakini nilai tukar rupiah akan membaik.

"Dua minggu ini (rupiah akan menguat)," kata Purbaya, ditemui di Menara Global, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Dia menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi ketika ekonomi Indonesia membaik kedepannya. Para pemilik modal akan melihat hal tersebut dan arus modal akan tertarik ke Tanah Air.

"Kalau nanti ekonominya membaik terus Harusnya rupiah kan menguat juga hampir otomatis. Kenapa? Karena Orang Modal-modal asing akan masuk, mereka akan masuk ke tempat yang negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," tutur dia.

Dia memperkirakan, ekonomi RI akan tumbuh 5,45 persen di kuartal IV-2025. Kemudian, berangsur membaik ke 6 persen pada 2026 ini. "Kita akan dorong ke arah sana. Jadi kalau itu mereka udah yakin, jadi anda gak usah takut, fondasi kita kuat, rupiah akan masuk karena modal akan masuk ke sini," ujarnya.

"Dan orang Indonesia yang menaruh uangnya di sana ke luar negeri juga akan balik karena dia akan berbisnis di sini, karena orang Indonesia gak bisa berbisnis di luar negeri, mereka gak biasa bersaing sehat di sana," sambung Bendahara Negara ini.

Nilai Tukar Rupiah

Sebelumnya, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) naik tipis pada pembukaan perdagangan Rabu, (14/1/2026). Rupiah bertambah tujuh poin atau 0,04% menjadi 16.870 per dolar AS dari sebelumnya 16.877 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah kembali melemah pada hari ini Rabu 14 Januari 2025 di rentang 16.870 hingga 16.900 terhadap dolar AS.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.870 - Rp16.900," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Sempat Melemah

Pada perdagangan sebelumnya, Selasa, 13 Januari 2026 mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin di level Rp 16.877 atau melemah juga dari penutupan sebelumnya Senin, 12 Januari 2026 di level Rp 16.855.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menuturkan, rupiah akan diperkirakan bergerak di kisaran 16.800-16.900 per dolar AS. Ia menuturkan, ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif terhadap negara-negara yang berdagang dengan Iran membayangi rupiah, demikian mengutip Antara.

Selain itu, sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah di antaranya, sentimen pasar telah terguncang oleh perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat (AS), di mana jaksa telah meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua Fed Jerome Powell.

Tekanan Politik AS

Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS. Ibrahim menjelaskan, pernyataan Ketua Jerome Powell pada Minggu malam mengatakan dalam sebuah video tindakan Departemen Kehakiman (DOJ) bermotivasi politik, menekankan itu “bukan tentang kesaksian saya Juni lalu atau tentang renovasi gedung Federal Reserve,” menambahkan bahwa penjelasan tersebut “hanyalah dalih.”

Powell mengatakan, masalahnya adalah apakah Fed dapat terus menetapkan suku bunga “berdasarkan bukti dan kondisi ekonomi atau apakah kebijakan moneter akan diarahkan oleh tekanan atau intimidasi politik.”

Gejolak Iran dan Rusia Kemudian, Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan kekerasan yang meluas dan dilaporkan banyak korban jiwa ketika pasukan keamanan menindak para demonstran.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |