Rupiah Melemah, Investor Antisipasi Kebijakan Baru

15 hours ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi ini. Mata uang Garuda turun 10 poin atau sekitar 0,06% menjadi Rp 17.677 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp 17.667 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen dari dalam negeri dan faktor global, mulai dari ketidakpastian kebijakan domestik hingga penguatan dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh sikap investor yang masih mencermati arah kebijakan pemerintah.

“Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan domestik,” kata Josua dikutip dari Antara, Jumat (22/5/2026).

Pelaku pasar mulai mengantisipasi kebijakan baru mengenai tata kelola ekspor. Kebijakan tersebut disebut akan memusatkan transaksi ekspor untuk sejumlah komoditas melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selain itu, investor juga mulai melakukan penyesuaian portofolio menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Juni mendatang. Perubahan strategi investor tersebut membuat sebagian dana mengalir ke instrumen atau aset lain yang dinilai lebih aman.

Sentimen Eksternal

Dari faktor eksternal, penguatan dolar AS juga menjadi tekanan tambahan bagi rupiah. Kondisi tersebut dipicu oleh sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan perkiraan pasar.

Dari sektor tenaga kerja, data Klaim Pengangguran Awal AS untuk periode yang berakhir pada 16 Mei 2026 tercatat turun menjadi 209 ribu dari sebelumnya 212 ribu.

Angka itu juga lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan 210 ribu klaim.

Penurunan jumlah klaim pengangguran dinilai menjadi sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Situasi tersebut memperlihatkan daya tahan ekonomi AS yang tetap solid di tengah ketidakpastian global.

Kondisi pasar tenaga kerja yang kuat biasanya membuat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga acuan.

Prediksi Gerak Rupiah Hari Ini

Sementara dari sektor manufaktur, data Preliminary S&P Global PMI Manufaktur AS secara tak terduga meningkat menjadi 55,3 pada Mei 2026 dari sebelumnya 54,5.

Angka tersebut juga melampaui perkiraan pasar yang berada di level 53,8. Kenaikan itu menunjukkan aktivitas manufaktur AS masih bertahan kuat meski ekonomi global menghadapi sejumlah tantangan.

Menurut Josua, data ekonomi yang solid membuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed menjadi berkurang.

“Namun, kemudian pada sesi tersebut, penguatan dolar AS tertahan karena optimisme mengenai potensi kesepakatan perdamaian muncul kembali setelah pemerintah Iran menyatakan bahwa proposal terbaru dari AS telah mulai menjembatani kesenjangan antara kedua pihak,” ujar Josua.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.725 per dolar AS.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |