Rio Tinto Bakal Caplok Glencore, Berpeluang Lahirkan Raksasa Tambang Dunia

15 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Industri pertambangan global kembali diguncang kabar kesepakatan jumbo. Dua raksasa tambang dunia, Rio Tinto dan Glencore, mengonfirmasi  tengah melakukan pembicaraan awal terkait potensi penggabungan atau merger yang dapat melahirkan perusahaan pertambangan terbesar di dunia dengan nilai pasar gabungan hampir USD 207 miliar atau setara lebih dari Rp 3.476 triliun (kurs USD 1 terhadap rupiah di 16.795).

Dikutip dari asia.nikkei.com, Jumat, (9/1/2026), ini bukan kali pertama kedua perusahaan menjajaki kesepakatan. Glencore sempat mendekati Rio Tinto pada akhir 2024, tetapi pembicaraan kala itu gagal mencapai kata sepakat. Kebangkitan kembali diskusi ini disebut-sebut dipengaruhi oleh perubahan kepemimpinan di Rio Tinto.

Langkah ini mencerminkan semakin intensnya konsolidasi di sektor tambang global, seiring perusahaan-perusahaan besar berlomba mengamankan cadangan logam strategis seperti tembaga, yang diproyeksikan menjadi tulang punggung transisi energi bersih dan pertumbuhan teknologi kecerdasan buatan.

Wacana kesepakatan ini muncul di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap logam dasar untuk mendukung kendaraan listrik, jaringan energi terbarukan, hingga pusat data artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang boros energi.

Tidak mengherankan jika para pemain besar memilih jalur akuisisi dan merger guna mempercepat ekspansi dibandingkan membuka tambang baru yang memakan waktu panjang dan biaya besar.

Jika terealisasi, merger dan akuisisi ini akan menjadi kesepakatan pertambangan terbesar dalam sejarah, melampaui nilai pasar BHP Group yang saat ini berada di kisaran USD 161 miliar, sekitar Rp 2.703 triliun. Para investor kini menanti apakah kesepakatan ini mampu menciptakan nilai jangka panjang atau justru menjadi beban baru bagi pemegang saham.

Tahap Awal Pembicaraan, Opsi Akuisisi Penuh Dibuka

Rio Tinto dan Glencore menyatakan pembahasan yang berlangsung saat ini masih berada pada tahap awal. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pengambilalihan seluruh saham Glencore oleh Rio Tinto, meski kedua pihak menegaskan belum ada kepastian terkait struktur maupun syarat akhir kesepakatan.

Menurut aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki tenggat hingga 5 Februari untuk mengajukan penawaran resmi atau menyatakan mundur dari proses tersebut.

Respons Pasar: Saham Glencore Menguat, Rio Tinto Tertekan

Pasar merespons cepat kabar ini. Saham Glencore melonjak sekitar 6 persen, mencerminkan optimisme investor terhadap potensi premi akuisisi. Sebaliknya, saham Rio Tinto justru terkoreksi hingga 6,4 persen, menyentuh level terendah sejak Juli 2022, di tengah kekhawatiran pasar soal risiko membayar terlalu mahal.

Sejumlah analis menilai transaksi ini akan sangat bergantung pada valuasi dan disiplin keuangan Rio Tinto.

"Ada risiko [Rio] bisa membayar terlalu mahal. Ini semua bermuara pada harga, tetapi jika mereka harus membayar premi yang besar, ada risiko bahwa transaksi tersebut dapat menghancurkan sebagian nilai bagi pemegang saham," kata analis di perusahaan pengelola dana Allan Gray, yang merupakan investor Rio Tinto, Tim Hillier.

"Rio memiliki serangkaian proyek internal yang berkembang pesat. Tidak jelas mengapa mereka perlu mencari proyek eksternal untuk dikerjakan," ia menambahkan.

Tembaga Jadi Kunci di Tengah Transisi Energi dan Ledakan AI

CEO baru Rio Tinto, Simon Trott, yang mulai menjabat sejak Agustus, dikenal lebih terbuka terhadap kesepakatan berskala besar. Di bawah kepemimpinannya, Rio Tinto juga tengah melakukan perampingan portofolio dengan melepas aset non-inti.

"Tanda tanya terbesar adalah budaya kedua perusahaan, karena Glencore jelas memiliki latar belakang perdagangan, sangat oportunistik dan berfokus pada hasil, beberapa aspek budaya mereka sebenarnya bisa bermanfaat bagi Rio," kata dia.

"Saya harap Rio tetap disiplin, tetapi masuk akal untuk melihat kesepakatan di mana nilai dapat diperoleh oleh kedua belah pihak," ia menambahkan.

Baik Rio Tinto maupun Glencore sama-sama mengalihkan fokus strategis mereka ke tembaga, komoditas yang diperkirakan akan mengalami lonjakan permintaan signifikan.

Konsultan S&P Global memproyeksikan permintaan tembaga global naik hingga 50 persen pada 2040, didorong oleh pertumbuhan AI, elektrifikasi, dan sektor pertahanan.

Namun, pasokan tembaga global diperkirakan akan defisit lebih dari 10 juta ton per tahun, kecuali ada peningkatan signifikan pada daur ulang dan investasi tambang baru,faktor yang membuat konsolidasi menjadi semakin menarik.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |