Restrukturisasi BUMN Karya Hampir Final

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Dony Oskaria menegaskan proses restrukturisasi BUMN Karya hampir final, selanjutnya masuk fase konsolidasi dalam tiga core utama, yakni konstruksi di area building, infrastruktur dan engineering procurement and construction (EPC).

Ia menjelaskan restrukturisasi akan dimulai pada perbaikan fundamental perusahaan, terutama lewat impairment laporan keuangan.

"Mereka (BUMN Karya) kan saat ini sudah melakukan restrukturisasi, sudah hampir final. Kita sudah lakukan impairment juga terhadap bolong-bolong bukunya. Kemudian restrukturisasi terhadap hutang-hutangnya. Setelah ini mereka masuk ke fase konsolidasi," ujar Dony dikutip dari Antara, Selasa (17/3/2026).

Dony memaparkan setelah menjalani perbaikan fundamental perusahaan, maka tahap selanjutnya adalah konsolidasi. Hal ini dilakukan dengan melihat kompetensi dari masing-masing BUMN dengan tiga core bisnis utama yang dicanangkan.

Ia optimistis perbaikan fundamental dan konsolidasi akan membuatkan masa depan BUMN Karya semakin cerah, terutama dalam hal tata kelola perusahaannya.

Ia menegaskan BUMN Karya melangkah menuju konsolidasi dengan semangat transparansi dan BUMN, terbuka untuk diawasi.

"Kalau ada yang tidak baik, tidak benar, langsung diangkat saja. Tidak apa-apa. Kan itu bentuk daripada kontrol terhadap BUMN-BUMN yang memang milik rakyat," ujar Dony.

Holding Maskapai BUMN Ditargetkan Rampung Semester I 2026

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menargetkan pembentukan holding maskapai BUMN dapat rampung pada semester I 2026. Konsolidasi ini akan menggabungkan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Citilink Indonesia, serta PT Pelita Air Service dalam satu struktur holding.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menjelaskan pembentukan holding maskapai BUMN bertujuan menciptakan efisiensi operasional, khususnya dalam sistem pemesanan tiket dan optimalisasi layanan.

"Holdingisasi dari Pelita, Citilink, dan Garuda artinya satu booking, satu Garuda point, mileage, registration, bahkan seat-nya bisa saling tukar dan sebagainya. Itu pasti bisa lebih efisien. Jadi optimalisasi dari sistem booking," ujar Rohan dikutip dari Antara, Kamis (26/2/2026).

Dengan sistem terintegrasi, pelanggan nantinya dapat menikmati kemudahan pemesanan lintas maskapai dalam satu ekosistem. Langkah ini juga diharapkan memperkuat daya saing maskapai pelat merah di tengah ketatnya industri penerbangan nasional dan regional.

Efisiensi Armada dan Potensi Tambahan Pendapatan

Selain integrasi sistem pemesanan, konsolidasi holding maskapai BUMN juga diharapkan mampu mengatasi keterbatasan armada yang selama ini dialami masing-masing maskapai.

Rohan menjelaskan, jika ketiga maskapai memiliki rute yang sama, penggabungan operasional dapat meningkatkan tingkat keterisian dan efisiensi penerbangan.

"Jumlah pesawatnya jadi lebih banyak kalau bergabung. Rute yang sama bisa di masing-masing hanya 60 persen, kalau digabung penuh dua-duanya, tujuannya Surabaya misalkan yang paling populer. Citilink ada Surabaya, Pelita ada Surabaya, Garuda ada Surabaya, kenapa enggak satu flight?" ujarnya.

Ia berharap integrasi ini dapat memberikan tambahan pendapatan, khususnya bagi Garuda Indonesia yang saat ini masih berupaya mencatatkan keuntungan.

"Hopefully ya segera di semester I 2026, karena itu sangat krusial untuk mendapatkan extra income tanpa menambah pesawat," kata Rohan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |