RDMP Balikpapan Diresmikan, Titik Balik Lepas dari Impor Solar

2 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai menjadi momentum penting dalam upaya Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar. Proyek ini disebut sebagai tonggak baru kemandirian energi nasional.

Pengamat kebijakan publik sekaligus Guru Besar Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, menilai RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek infrastruktur energi. Menurutnya, proyek ini menandai kembalinya peran negara dalam menguasai sektor strategis yang selama bertahun-tahun dihadapkan pada persoalan tata kelola.

Ia mengingatkan, proyek modernisasi kilang yang mulai dibangun sejak 2019 tersebut sempat menghadapi berbagai kendala serius. Mulai dari pembengkakan biaya, keterlambatan pembayaran, hingga menurunnya kepercayaan mitra internasional. Bahkan, pada satu fase krusial, kontraktor asing sempat mempertimbangkan penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional.

“Kondisi itu membuat proyek hampir kehilangan momentum. Padahal sejak awal RDMP Balikpapan dirancang sebagai tulang punggung kemandirian energi nasional,” ujar Trubus, Senin (12/1/2026).

Kepastian Kebijakan

Menurut Trubus, titik balik RDMP Balikpapan terjadi ketika pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto mengambil langkah lebih tegas dalam menata ulang proyek tersebut. Negara tidak hanya melanjutkan pembangunan, tetapi juga memastikan adanya kepastian kebijakan dan komitmen kuat untuk menuntaskan proyek strategis tersebut.

“Yang dilakukan bukan sekadar meneruskan pekerjaan teknis, melainkan membongkar ulang relasi kuasa di sektor energi. Negara kembali mengambil kendali dan memastikan proyek strategis tidak lagi menjadi ladang rente,” ujarnya.

Dalam industri energi, kata Trubus, kepastian politik dan konsistensi kebijakan sering kali jauh lebih menentukan dibandingkan insentif semata. Tanpa keberanian politik, proyek besar berisiko terjebak dalam persoalan berulang yang menghambat manfaat jangka panjangnya.

Langkah tegas pemerintah ini dinilai memberikan sinyal positif bagi keberlanjutan proyek, sekaligus memulihkan kepercayaan para pemangku kepentingan di sektor energi nasional.

Berstandar Euro 5

Secara teknis, RDMP Balikpapan dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 360 ribu barel per hari. Kilang ini akan menghasilkan BBM berstandar Euro 5 yang lebih ramah lingkungan dan rendah emisi, serta produk petrokimia bernilai tambah tinggi seperti propylene dan LPG. Tingkat kompleksitas kilang juga meningkat signifikan, tercermin dari lonjakan Nelson Complexity Index.

“Ini menunjukkan bahwa kilang Balikpapan tidak lagi sekadar meningkatkan volume produksi, tetapi sudah masuk pada tahap industrialisasi hilir yang modern dan efisien,” kata Trubus.

Ia menambahkan, kombinasi antara beroperasinya RDMP Balikpapan dan kebijakan biodiesel B35 hingga B40 membuka peluang realistis bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan impor solar mulai 2026.

“RDMP Balikpapan menunjukkan bahwa proyek yang nyaris gagal bisa diselamatkan ketika negara hadir secara tegas. Ini pelajaran penting bahwa persoalan utama kita bukan kekurangan sumber daya, melainkan keberanian politik,” pungkas Trubus.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |