Presiden AS Trump Larang Dividen dan Buyback Saham Perusahaan Pertahanan

23 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (Presiden AS) Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap industri pertahanan AS. Pada Rabu waktu setempat, Trump menegaskan dirinya tidak akan mengizinkan perusahaan-perusahaan pertahanan membagikan dividen maupun melakukan pembelian kembali atau buyback saham hingga mereka mempercepat produksi peralatan militer dan menjawab berbagai keluhan yang selama ini muncul dari pemerintah AS.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan panjang di platform media sosial Truth Social dan langsung mengguncang pasar saham sektor pertahanan.

Trump menilai perusahaan-perusahaan kontraktor militer besar tidak cukup cepat memproduksi peralatan pertahanan yang dibutuhkan Amerika Serikat. Bahkan, menurutnya, peralatan yang sudah diproduksi pun kerap tidak dipelihara atau diperbaiki dengan cepat. Demikian dikutip dari CNBC, Kamis (8/1/2026).

Di sisi lain, Trump mengkritik tajam praktik keuangan industri tersebut, terutama pembagian dividen, pembelian kembali saham, serta paket gaji eksekutif yang ia sebut "sangat tinggi dan tidak dapat dibenarkan.”

"Perusahaan Pertahanan tidak memproduksi Peralatan Militer Hebat kita dengan cukup cepat dan, setelah diproduksi, tidak memeliharanya dengan benar atau cepat,” tulisnya.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan perusahaan pertahanan membangun pabrik produksi baru dan meningkatkan kapasitas manufaktur, tidak ada eksekutif yang boleh menerima gaji lebih dari USD 5 juta, sekitar Rp 83,83 miliar (kurs USD 1 terhadap rupiah di kisaran 16.770).

"Tidak ada Eksekutif yang boleh menerima gaji lebih dari 5 Juta Dolar,” tegas Trump. Ia menilai dana perusahaan seharusnya difokuskan untuk investasi pabrik dan peralatan, bukan untuk memperkaya pemegang saham dan manajemen.

Saham RTX Tertekan, Raytheon Disorot Tajam

Pernyataan Trump langsung berdampak ke pasar. Saham General Dynamics, Lockheed Martin, dan Northrop Grumman masing-masing turun sekitar 3 persen setelah komentar tersebut dirilis.

Tekanan semakin kuat ketika Trump secara khusus menyebut Raytheon sebagai perusahaan yang dinilainya paling lambat merespons kebutuhan Departemen Pertahanan AS. 

Trump menuding Raytheon lebih agresif dalam mengalokasikan dana untuk pemegang saham dibandingkan memenuhi tuntutan militer Amerika Serikat. Ia bahkan memperingatkan Pentagon (Departemen Pertahanan Amerika Serikat) dapat memutus hubungan bisnis dengan perusahaan tersebut jika tidak segera meningkatkan investasi pada pabrik dan peralatan produksi.

"Yang paling tidak responsif terhadap kebutuhan Departemen Perang, paling lambat dalam meningkatkan volumenya, dan paling agresif dalam pengeluaran untuk para pemegang sahamnya daripada untuk kebutuhan dan tuntutan Militer Amerika Serikat,” sebut Trump.

Saham RTX Melemah

Saham RTX, perusahaan induk Raytheon, kembali merosot sekitar 2 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, setelah sebelumnya ditutup turun 2,5 persen. Sebagai salah satu kontraktor pertahanan terbesar AS, RTX memproduksi berbagai sistem senjata strategis, termasuk rudal udara canggih dan komponen utama jet tempur F-35.

Trump secara tegas menyatakan bahwa “dalam keadaan apa pun” Raytheon tidak boleh melakukan pembelian kembali saham untuk sementara waktu. Ia juga memperingatkan industri pertahanan secara luas agar bersiap menghadapi perubahan kebijakan yang lebih ketat.

“Situasi ini tidak akan lagi diizinkan atau ditoleransi! Oleh karena itu, saya tidak akan mengizinkan Dividen atau Pembelian Kembali Saham untuk Perusahaan Pertahanan sampai masalah-masalah ini diperbaiki. Demikian pula untuk Gaji dan Kompensasi Eksekutif,” tulis Trump dalam unggahan tersebut.

Trump Kritik Buyback dan Gaji Eksekutif

Trump mengeluhkan dividen dan pembelian kembali saham dalam jumlah besar telah dilakukan dengan mengorbankan investasi di bidang pabrik dan peralatan. Ia menegaskan praktik tersebut tidak akan lagi ditoleransi. Menurut Trump, kebutuhan militer harus dipenuhi dengan dana internal perusahaan, bukan dengan utang atau mengandalkan dana pemerintah.

“Harus dibangun sekarang dengan dividen, pembelian kembali saham, dan kompensasi berlebihan bagi para eksekutif, daripada meminjam dari lembaga keuangan, atau mendapatkan uang dari pemerintah Anda,” tambah Trump.

Sebagai gambaran, Northrop Grumman tercatat menghabiskan USD 1,17 miliar, sekitar Rp 19,6 triliun untuk pembelian kembali saham dan membayarkan dividen sebesar USD 964 juta, sekitar Rp 16 triliun dalam sembilan bulan hingga akhir September.

Sementara itu, Lockheed Martin mengalokasikan USD 2,25 miliar, sekitar Rp 37,7 triliun untuk buyback saham dan USD 2,33 miliar, sekitar Rp 39 triliun untuk dividen dalam periode serupa.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |