Prediksi Harga Emas Dunia Hari Ini, Sinyal Bullish Makin Kuat

13 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan Rabu, 8 April 2026 diperkirakan masih berpotensi melanjutkan tren penguatan. Hal ini didukung sinyal teknikal yang semakin solid serta sentimen global yang cenderung positif.

Analis Dupoin Futures analis Geraldo Kofit menjelaskan, pergerakan XAU/USD menunjukkan kecenderungan bullish pada timeframe H4. Kondisi ini terjadi setelah harga emas berhasil menembus area resistance penting yang sebelumnya menjadi penghalang kenaikan.

"Keberhasilan breakout tersebut dinilai sebagai indikasi awal terbentuknya tren naik baru atau primary uptrend. Dalam situasi ini, minat beli biasanya meningkat karena pelaku pasar mulai optimistis terhadap potensi kenaikan lanjutan,"jelas dia dalam risetnya, Rabu (8/4/2026).

Meski demikian, pergerakan harga tidak selalu berlangsung mulus. Geraldo mengingatkan bahwa potensi koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai sebagai bagian dari dinamika pasar.

Area Fibonacci 61,8% Jadi Titik Krusial

Secara teknikal, peluang koreksi justru dapat dimanfaatkan sebagai strategi masuk pasar yang lebih optimal. Dalam analisisnya, area Fibonacci retracement 61,8% menjadi zona penting yang patut dicermati investor.

Level ini dikenal sebagai golden ratio, yang kerap menjadi titik pantulan harga sebelum melanjutkan tren utama.

Dari sisi indikator, tren bullish juga semakin terkonfirmasi. Harga emas saat ini bergerak di atas Moving Average 21 dan 34, yang mencerminkan dominasi tekanan beli di pasar dalam jangka menengah.

Sementara itu, indikator stochastic berada di area overbought dan masih mengarah naik. Kondisi ini menunjukkan momentum beli yang kuat, meski sekaligus membuka peluang koreksi dalam waktu dekat.

Namun, koreksi tersebut dinilai sebagai hal yang wajar dan bukan sinyal pembalikan arah tren.

Pelemahan Dolar dan Harapan Penurunan Suku Bunga Jadi Katalis

Dari sisi fundamental, penguatan harga emas turut didukung berbagai faktor global. Salah satunya adalah potensi pelemahan dolar Amerika Serikat, terutama jika data ekonomi menunjukkan perlambatan.

Indikasi seperti penurunan inflasi atau melemahnya pasar tenaga kerja dapat menekan nilai dolar, sehingga menjadi katalis positif bagi emas.

Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS juga menjadi faktor penting. Ketika suku bunga turun, emas menjadi lebih menarik karena tidak bersaing langsung dengan instrumen berbunga.

Permintaan terhadap aset safe haven juga diperkirakan tetap tinggi di tengah ketidakpastian global, baik dari sisi geopolitik maupun ekonomi.

Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberi ruang bagi kenaikan harga emas, karena menurunkan opportunity cost bagi investor.

Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut, tren bullish emas dinilai masih berlanjut. Meski begitu, investor tetap disarankan mencermati potensi koreksi sebagai bagian dari strategi yang lebih terukur.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |