Prabowo Targetkan Indonesia Swasembada Energi, Bangun PLTS 100 Gigawatt

4 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan yang cukup besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi (geothermal), hingga biomassa. Potensi tersebut dinilai perlu dimanfaatkan secara optimal agar mampu mendukung kebutuhan energi nasional di masa depan.

Komitmen percepatan transisi energi ini ditegaskan Presiden Prabowo Subianto dengan menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi.

Presiden Prabowo juga menempatkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar serta program konversi kendaraan listrik sebagai fokus utama dalam percepatan transisi energi jangka pendek.

"Kita sudah punya niat untuk swasembada energi, yang kita yakin akan tercapai dalam 4 tahun. Target ini tentunya memerlukan upaya keras dan percepatan dengan mengoptimalkan sumber-sumber energi alternatif yang kita miliki. Dengan akselerasi ini kita yakin permasalah energi ini dapat terselesaikan," ujar Prabowo saat menghadiri acara Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Target Bangun PLTS 100 Gigawatt

Presiden Prabowo menilai Indonesia memiliki potensi energi alternatif yang melimpah dibandingkan sejumlah negara lain yang saat ini menghadapi krisis energi.

"Banyak negara dalam kondisi yang lebih menyedihkan daripada kita, kita punya kelapa sawit yang sangat banyak, kita punya singkong yang cukup, kita bisa dapat BBM dari jagung, dari tebu. Saudara-saudara kita punya geothermal (panas bumi) yang sangat besar. Kalau tidak salah kedua cadangan terbesar di dunia yang belum dieksploitasi sepenuhnya," ujar Prabowo.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional, Presiden juga memerintahkan pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW).

"Kita akan melaksanakan eletrikifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt. Itu sudah perintah saya. Itu sudah keputusan saya dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa kita lebih cepat dan efektif dalam hal ini," jelasnya.

Program pembangunan PLTS tersebut diharapkan dapat mempercepat pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Kurangi Ketergantungan Energi Fosil

Di kesempatan terpisah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa arahan Presiden Prabowo untuk membangun PLTS dalam skala besar bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional.

"Saat ini kita punya pembangkit itu masih pakai diesel, sebagian batubara, sebagian gas. Arahan Bapak Presiden, agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt," kata Bahlil dalam tayangan Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Bahlil menambahkan bahwa percepatan transisi energi tidak hanya mengandalkan tenaga surya. Pemerintah juga akan mengoptimalkan berbagai sumber energi terbarukan lain yang dimiliki Indonesia.

"Optimalisasi pemanfaatan EBT kita lakukan bukan dengan PLTS saja, tapi juga dengan mempergunakan seluruh sumber daerah kita, seperti geothermal, maupun air. Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil," jelas Bahlil.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat memperkuat kemandirian energi sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |