Peran Vital Selat Hormuz bagi Perdagangan Dunia

4 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Perang yang semakin memanas di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap jalur perdagangan global, terutama melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Sejumlah perusahaan pelayaran kontainer besar menangguhkan operasional melalui Selat Hormuz dan mengalihkan rute kapal mengitari ujung selatan Afrika, setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.

Dikutip dari CNBC, Selasa (3/3/2026), perusahaan pelayaran asal Denmark, Maersk, menyatakan akan menghentikan seluruh pelayaran kapal melalui Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut. Perusahaan juga memperingatkan adanya potensi keterlambatan layanan ke pelabuhan di kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz, yang terletak di antara Oman dan Iran, dikenal sebagai salah satu titik penyempitan (chokepoint) minyak paling penting di dunia.

Pada 2023, arus minyak yang melintas mencapai rata-rata 20,9 juta barel per hari, atau sekitar 20% dari konsumsi minyak global, menurut data U.S. Energy Information Administration.

Maersk juga menghentikan pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb—jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia—serta mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope).

Jalur Vital Energi dan Kontainer Dunia

Selat Bab el-Mandeb diperkirakan menyumbang 12% perdagangan minyak laut dunia dan 8% perdagangan gas alam cair (LNG) pada paruh pertama 2023. Gangguan di dua jalur ini berpotensi mengerek biaya pengiriman dan harga energi global.

Analis utama Xeneta, Peter Sand, mengatakan tarif pengiriman kontainer ke kawasan Timur Tengah kemungkinan akan naik selama konflik masih berlangsung.

“Risiko geopolitik menunjukkan wajah buruknya dengan frekuensi dan tingkat keparahan yang lebih tinggi dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Sand kepada CNBC.

Ia menambahkan industri pelayaran juga mengalami “kelelahan” karena harus terus menyusun rencana darurat yang kerap berubah akibat dinamika konflik.

Selain Maersk, perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd juga menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz demi alasan keamanan awak kapal. Perusahaan Prancis CMA CGM serta raksasa pelayaran dunia MSC turut mengalihkan kapal ke area aman.

Apakah Selat Hormuz Akan Ditutup Total?

Pendiri dan Direktur Energy Aspects, Amrita Sen, menilai kemungkinan Iran menutup total Selat Hormuz relatif kecil.

“Kami tidak berpikir itu sangat mungkin terjadi,” ujar Sen.

Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel memiliki kekuatan militer yang lebih unggul untuk menetralisir upaya tersebut dengan cepat.

Namun, ia memperingatkan bahwa serangan sporadis terhadap kapal tanker sudah cukup membuat pasar sangat berhati-hati.

“Meski kami tidak mengatakan bahwa selat itu akan ditutup, yang tidak akan bisa dilakukan Amerika Serikat adalah mengendalikan serangan-serangan sporadis terhadap kapal tanker. Itu saja sudah cukup membuat pasar sangat berhati-hati dalam mengirim kapal ke sana. Dan itulah yang menciptakan gangguan,” katanya.

Meski belum ditutup sepenuhnya, gangguan sementara saja di Selat Hormuz dapat mendorong lonjakan harga energi, meningkatkan biaya logistik, dan menyebabkan keterlambatan pasokan secara global.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |