Pembangkit Listrik Dibangun Industri Kian Mendominasi, Perhatikan Risikonya

15 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan pembangkit Listrik Captive terus mendominasi sektor industri terutama padat karya di Indonesia, seperti smelter nikel, aluminium, baja, dan industri pengolahan lainnya. 

Keberadaan pembangkit listrik captive berbasis fosil ini dapat membuat Indonesia semakin bergantung pada energi kotor dan sangat sulit untuk beralih ke energi bersih dalam puluhan tahun ke depan, apabila tidak dibatasi. Maklum, sebagian besar jenis pembangkit listrik captive yang digunakan masih bersumber dari bahan bakar fosil seperti batu bara dan gas.

"Apabila tidak dikendalikan, pembangkit listrik captive berbasis fosil ini bisa membuat Indonesia susah pindah ke energi yang lebih bersih, dan bisa terjebak pakai energi kotor itu lamaaa sekali, sampai puluhan tahun ke depan," ujar Program Director of Research and Innovation, IESR  Raditya Wiranegara di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Dia mengakui, permintaan energi, khususnya listrik dari sektor industri di Indonesia berkembang sangat cepat, tetapi pertumbuhan suplainya masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, terutama batu bara.

Dengan maraknya ekspansi pembangkit listrik captive menciptakan dua risiko utama, yakni risiko daya saing ekonomi akibat tekanan pasar global terhadap produk beremisi tinggi, dan risiko ketidaksesuaian dengan target iklim dan komitmen Kesepakatan Paris.

"Pembangkit Listrik Captive adalah pembangkit listrik yang dibangun dan dioperasikan langsung oleh pelaku industri untuk memenuhi kebutuhan listriknya sendiri, tanpa terhubung ke sistem kelistrikan nasional," jelas.

Dia menyebutkan, dalam periode 2019–2024, kapasitas pembangkit listrik captive meningkat dari 14 GW menjadi 33 GW. Terdapat tambahan 17,4 GW berasal dari pembangkit batu bara dan gas dalam project pipeline setelah 2024.

Pertumbuhan yang signifikan didorong oleh program hilirisasi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi."Saat ini sudah dalam tahap konstruksi sekitar 5 GW PLTU batu bara dan 2,5 GW PLTG berbasis gas," tambah dia.

Diproyeksikan pada tahun 2060, kebutuhan permintaan listrik sektor industri akan meningkat sebesar 43% dari total kebutuhan nasional sekitar 1.813 TWh.

"Jika tidak diimbangi dengan penguatan dan perluasan jaringan, serta kemudahan akses pelaku industri terhadap energi terbarukan. Maka Pembngkit Listrik Captive ini  dapat menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di sektor ketenagalistrikan," tegas Raditya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |