Pangkas Impor, Pemanfaatan Aspal Buton Ditargetkan Tembus 30 Persen

7 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mendorong percepatan pemanfaatan Aspal Buton (Asbuton) sebagai upaya memperkuat kemandirian sektor infrastruktur dan mengurangi ketergantungan terhadap impor aspal.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyampaikan kebutuhan aspal nasional saat ini mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat hingga 1,5 juta ton dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih bergantung pada aspal berbasis minyak bumi yang diimpor dari luar negeri.

“Namun demikian, hampir 80 persen masih bergantung pada aspal yang berbasis pada minyak bumi yang kita impor,” ujar Dody dikutip dari Antara, Jumat (3/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, turut memicu fluktuasi harga energi yang berdampak langsung pada sektor infrastruktur.

“Situasi ini mendorong harga minyak menjadi berfluktuasi semakin tinggi dan berimbas langsung kepada sektor infrastruktur kita, khususnya pada material strategis seperti aspal,” katanya.

Kondisi ini dinilai menjadi sinyal penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor.

Target Pemanfaatan Asbuton Tembus 30 Persen

Indonesia sebenarnya memiliki cadangan aspal alam yang besar di Pulau Buton. Namun, pemanfaatannya hingga kini masih relatif rendah.

Saat ini, penggunaan Asbuton baru mencapai sekitar 4 persen dari total kebutuhan nasional.

Untuk itu, Kementerian PU menargetkan peningkatan pemanfaatan Asbuton dalam pembangunan jalan nasional hingga minimal 30 persen.

“Ini adalah sebuah peluang bagi kita untuk ke depan bisa makin berdiri sendiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Dody.

Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pasokan material konstruksi, tetapi juga meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

Dengan meningkatnya penggunaan Asbuton, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga minyak global yang selama ini memengaruhi harga aspal impor.

Potensi Hemat Devisa hingga Rp 4 Triliun

Selain aspek kemandirian, pemanfaatan Aspal Buton juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan.

Dody menyebutkan, penggunaan Asbuton berpotensi menghemat devisa negara hingga sekitar Rp 4 triliun per tahun.

“Potensi penghematan devisa negara akan mencapai sekitar Rp4 triliun, dan dengan penambahan penerimaan pajak sekitar hampir Rp 2 triliun,” ungkapnya.

Tak hanya itu, pengembangan industri Asbuton juga diperkirakan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi hingga Rp 23 triliun.

Langkah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru di sektor konstruksi.

Dengan strategi tersebut, pemerintah optimistis Indonesia dapat mencapai swasembada aspal sekaligus memperkuat fondasi pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |