Mengenal Sosok Legendaris Alan Greenspan, Mantan Bos The Fed yang Pernah Guncang Pasar

15 hours ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Alan Greenspan, mantan Ketua Federal Reserve (The Fed) yang dikenal luas sebagai "The Maestro" dan menjadi salah satu pembuat kebijakan ekonomi paling berpengaruh di Amerika Serikat, meninggal dunia pada usia 100 tahun.

Ekonom senior tersebut meninggal pada Senin akibat komplikasi penyakit Parkinson di kediamannya. Kabar duka itu disampaikan istrinya, Andrea Mitchell, yang juga merupakan Kepala Koresponden Washington dan Koresponden Urusan Luar Negeri NBC News.

"Ia adalah sosok besar yang membantu membentuk perekonomian Amerika Serikat selama beberapa dekade di bawah pemerintahan presiden dari kedua partai politik, namun selalu jujur dalam mengakui kesalahannya," ujar Mitchell dalam sebuah pernyataan dikutip dari CNBC, Selasa (23/6/2026). 

Greenspan pertama kali ditunjuk sebagai Ketua The Fed pada 1987 oleh Presiden AS saat itu, Ronald Reagan. Ia memimpin bank sentral AS selama hampir dua dekade sebelum pensiun pada 2006.

Masa jabatannya menjadi yang terlama kedua dalam sejarah The Fed, hanya terpaut empat bulan dari William McChesney Martin yang memimpin lembaga tersebut pada 1951 hingga 1970.

The Fed dalam pernyataannya menyampaikan duka mendalam atas kepergian Greenspan.

"Kontribusinya terhadap kebijakan moneter dan pemikiran ekonomi meninggalkan jejak yang mendalam bagi institusi ini, bidang ekonomi secara luas, dan negara," tulis The Fed.

Pernah Dipuji dan Dikritik karena Kebijakan Moneter

Selama memimpin The Fed, Greenspan berada di balik berbagai periode pertumbuhan ekonomi dan penguatan pasar saham AS. Namun, kepemimpinannya juga tidak lepas dari kritik, terutama setelah krisis keuangan global 2008.

Sebagian ekonom menilai kebijakan moneter longgar yang diterapkan pada era Greenspan turut berkontribusi terhadap terbentuknya gelembung aset yang akhirnya memicu krisis.

Penerus Greenspan di The Fed, Ben Bernanke, memberikan penghormatan atas kontribusinya terhadap perekonomian AS.

"Ia adalah bankir sentral hebat yang membantu memimpin negaranya melalui hampir dua dekade kemakmuran. Saya selalu melihatnya sebagai pribadi yang murah hati dalam berbagi waktu dan pemikirannya. Kita masih terus belajar darinya, meskipun ia sudah tidak lagi bersama kita," kata Bernanke.

Greenspan juga dikenang karena pidatonya pada 5 Desember 1996 yang melahirkan istilah terkenal "irrational exuberance" atau optimisme berlebihan yang tidak rasional di pasar keuangan.

Saat membahas tantangan dalam menentukan kebijakan moneter, ia mengatakan:

"Bagaimana kita mengetahui kapan optimisme yang tidak rasional telah mendorong nilai aset meningkat secara berlebihan, yang kemudian berisiko mengalami koreksi tak terduga dan berkepanjangan seperti yang terjadi di Jepang selama satu dekade terakhir? Kita tidak boleh meremehkan atau merasa terlalu percaya diri terhadap kompleksitas hubungan antara pasar aset dan perekonomian."

Pernyataan tersebut langsung ditafsirkan sebagai sinyal bahwa pasar saham telah mengalami valuasi yang terlalu tinggi.

Ahli "Fedspeak" yang Sulit Dipahami Pasar

Komentar Greenspan mengenai "irrational exuberance" sempat mengguncang pasar global. Bursa saham Tokyo yang saat itu masih buka langsung turun sekitar 3%, diikuti pelemahan sejumlah pasar lainnya.

Meski demikian, pasar kemudian pulih dan terus mencatat kenaikan hingga pecahnya gelembung dot-com pada 2001.

Selain dikenal sebagai ekonom berpengaruh, Greenspan juga memiliki reputasi sebagai ahli "Fedspeak", yaitu gaya komunikasi pejabat bank sentral yang sengaja dibuat rumit dan sulit ditafsirkan.

Dalam biografi berjudul Maestro: Greenspan's Fed and the American Boom yang ditulis Bob Woodward pada 2000, gaya komunikasi Greenspan digambarkan sebagai rangkaian kalimat panjang yang sering kali membuat pendengar kebingungan.

Setelah pensiun dari The Fed, Greenspan akhirnya mengakui bahwa gaya komunikasi tersebut memang disengaja.

"Itu adalah bahasa yang sengaja dibuat tidak jelas untuk menghindari munculnya pertanyaan tertentu yang sebenarnya tidak bisa Anda jawab. Mengatakan 'saya tidak akan menjawab' atau 'tanpa komentar' pada dasarnya juga merupakan sebuah jawaban," ujar Greenspan dalam wawancara dengan CNBC pada 2007.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |