Kurs Dolar Bergerak Turun, Rupiah Masih Terbatas oleh Tekanan Dalam Negeri

1 day ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau kurs dolar dibuka melemah pada awal perdagangan Selasa di Jakarta. Rupiah turun tipis 6 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp 16.746 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 16.740 per dolar AS.

Pergerakan rupiah terjadi di tengah dinamika global yang masih dipengaruhi arah kurs dolar Amerika Serikat. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah sebenarnya memiliki peluang menguat, meski ruang penguatannya masih terbatas.

“Rupiah berpotensi menguat walau terbatas oleh pelemahan dolar AS setelah data manufaktur ISM AS yang terkontraksi lebih besar dari perkiraan. Namun, data perdagangan Indonesia mengecewakan yang dirilis Senin (5/1) masih membebani,” ungkap Lukman dikutip dari Antara. 

Tekanan terhadap kurs dolar AS muncul setelah data manufaktur Amerika Serikat menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dari perkiraan pasar. Kondisi ini membuat dolar AS cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

Namun demikian, sentimen positif dari global tersebut belum sepenuhnya mampu menopang penguatan rupiah karena masih dibayangi faktor domestik yang dinilai kurang solid oleh pelaku pasar.

Purchasing Managers Index

Data terbaru menunjukkan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Institute for Supply Management (ISM) AS pada Desember 2025 tercatat sebesar 47,9 persen. Angka ini turun 0,3 poin dibanding November 2025 yang berada di level 48,2 persen, sekaligus berada di bawah ekspektasi pasar di 48,3 persen.

Kontraksi PMI tersebut memperkuat sinyal perlambatan sektor manufaktur AS dan mendorong pelemahan kurs dolar di pasar global. Dalam kondisi normal, situasi ini bisa menjadi katalis positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Namun, dari dalam negeri, data perdagangan Indonesia justru memberikan tekanan tambahan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencetak surplus USD 2,66 miliar. Nilai ini berasal dari ekspor sebesar USD 22,52 miliar dan impor USD 19,86 miliar.

Capaian surplus tersebut berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus sekitar USD 3,1 miliar. Selain itu, kinerja ekspor secara tahunan tercatat turun 6,6 persen, jauh dari perkiraan pertumbuhan positif.

Sementara itu, impor Indonesia hanya tumbuh 0,46 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,2 persen. Lemahnya kinerja perdagangan ini turut membatasi pergerakan rupiah, meskipun kurs dolar global sedang melemah.

Sentimen Kebijakan Domestik

Di luar faktor data, rupiah juga masih dibebani oleh sentimen kebijakan domestik. Langkah pemerintah yang cenderung ekspansif melalui stimulus ekonomi, serta sinyal pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) terkait prospek penurunan suku bunga, menjadi perhatian investor.

Permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih serta kekhawatiran terhadap potensi defisit anggaran dalam jangka menengah hingga panjang juga ikut menekan persepsi pasar terhadap rupiah.

“Rupiah cenderung masih terus tertekan oleh prospek ekonomi domestik sendiri,” ujar Lukman.

Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati pergerakan kurs dolar, arah kebijakan bank sentral global, serta data ekonomi lanjutan dari dalam negeri sebagai penentu arah rupiah dalam jangka pendek.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |