Kurs Dolar AS Bakal Perkasa, Rupiah Hari Ini 8 Januari 2026 Berpeluang ke 16.820

23 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpeluang melemah pada perdagangan Kamis, (8/1/2026). Kurs dolar AS yang bakal perkasa terhadap rupiah didorong sentimen rencana AS menguasai kawasan Greenland.

Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis pekan ini, rupiah bergerak stagnan atau sama seperti penutupan hari sebelumnya di 16.780 per dolar AS.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp16.770-Rp16.820 masih dipengaruhi oleh sentimen global risiko geopolitik terkait rencana AS menguasai Greenland, dan arah kebijakan bunga The Fed," tutur Analis Bank Woori Saudara Rully Nova seperti dikutip dari Antara, Kamis pekan ini.

Mengutip Kyodo, Gedung Putih menuturkan, rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland bertujuan untuk mencegah "agresi" China dan Rusia ke wilayah Arktik.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, dalam konferensi pers, menuturkan, akuisisi Greenland oleh AS sedang "aktif dibahas" oleh Trump bersama tim keamanan nasionalnya.

Dia menambahkan, semua opsi terbuka, termasuk penggunaan kekuatan militer, untuk mencapai tujuan tersebut, tetapi menekankan "opsi pertama Trump selalu diplomasi.”

Pernyataan itu disampaikan di tengah kembali menguatnya niat pemerintahan Trump untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom Denmark yang memiliki posisi strategis dan kaya sumber daya, yang memicu reaksi keras dari para pemimpin Eropa.

Melihat sentimen domestik, tren peningkatan inflasi di level 2,9 persen pada Desember 2025 dan beban fiskal Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 mempengaruhi pelemahan kurs rupiah.

"Defisit fiskal di APBN 2026 sebesar 2,68 persen berisiko terlampaui seiring target pendapat dari pajak berpotensi tidak tercapai," kata Rully.

Rupiah Tertekan Sentimen Suku Bunga Fed dan Invasi AS ke Venezuela

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat mata uang rupiah kembali melemah di level Rp 16.780 pada penutupan perdagangan Rabu (7/1/2026) sore.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin sebelumnya sempat melemah 30 poin di level Rp 16.780 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.758," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (7/1/2026).

Adapun sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah diantaranya, pertentangan pendapat terkait suku bunga dana Fed. Gubernur Fed Stephen Miran, Aktivitas bisnis AS tetap solid, namun hal itu membenarkan perlunya suku bunga yang lebih rendah.

Bertentangan dengan pendapatnya, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin menyatakan bahwa suku bunga dana Fed berada dalam level netral, yang tidak merangsang maupun menghambat aktivitas ekonomi.

Ketegangan Geopolitik

Ibrahim mejelaskan, kontrak berjangka dana Fed masih memperkirakan sekitar 82% kemungkinan suku bunga akan tetap stabil pada pertemuan bank sentral AS berikutnya pada tanggal 27 hingga 28 Januari, menurut alat CME FedWatch.

Namun demikian, ketegangan geopolitik yang terus-menerus dan ekspektasi berkelanjutan akan dua kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) tahun ini terus mendukung kenaikan harga emas secara lebih luas, menjaga harga tetap berada di sekitar rekor tertinggi.

"Investor akan mengamati dengan cermat data penggajian non-pertanian untuk bulan Desember, yang akan dirilis Jumat, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga. Kekuatan pasar tenaga kerja merupakan pertimbangan utama bagi Federal Reserve dalam mengubah suku bunga," ujarnya.

Gejolak Amerika Serikat dan Venezuela

Invasi AS ke Venezuela juga tetap menjadi poin penting yang perlu diwaspadai oleh pasar. Presiden Donald Trump mengatakan Caracas telah setuju untuk memasok antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat, setelah Washington menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu.

"Perselisihan diplomatik antara Jepang dan Tiongkok meningkat pekan ini setelah Beijing membatasi ekspor barang-barang dengan potensi aplikasi militer ke Jepang," ujarnya.

Sementara, di dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni pernyataan pemeringkat international seperti IMF dan Bank Dunia serta Bank Indonesia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dikisaran 5%.

"Namun Menteri Kuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6%, angka tersebut tidak sulit tercapai karena pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi," ujarnya.

Sedangkan sejumlah strategi untuk mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6%, salah satunya akselerasi anggaran. Purbaya ingin agar belanja fiskal bisa digelontorkan di awal-awal tahun. Kemudian disinkronkan dengan kebijakan moneter dari Bank Indonesia.

Selain itu, iklim usaha yang mulai membaik bisa mengembalikan kepercayaan investor, termasuk investor asing. Hal ini seiring dengan penyelesaian masalah debottlenecking atau hambatan investasi maupun usaha. Kebijakan tersebut membuat investor asing semakin oftimis dengan perubahan kebijakan tersebut.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |