Kadin Nilai Tarif Resiprokal 19 Persen AS Kompetitif, Dorong Ekspor Indonesia

21 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) menilai tarif resiprokal sebesar 19 persen dalam rencana Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat tergolong kompetitif. Skema tersebut dinilai berpotensi meningkatkan daya saing ekspor nasional sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, mengatakan tarif tersebut memberikan sinyal positif bagi dunia usaha, terutama karena sejumlah produk berpeluang memperoleh pembebasan tarif jika menggunakan komponen asal Amerika Serikat.

“Tarif 19 persen itu sudah kompetitif. Apalagi produk-produk ekspor kita yang menggunakan komponen dari Amerika Serikat bisa bahkan turun sampai dibebaskan dari tarif. Nah ini sangat menarik, tapi harus dipelajari detailnya,” ujar Anindya dikutip dari Antara, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal apabila pelaku usaha memahami secara rinci ketentuan teknis dalam ART. Hal ini penting agar manfaat kerja sama perdagangan dapat dirasakan secara maksimal, khususnya oleh sektor manufaktur dan industri bernilai tambah.

Anindya juga mengingatkan bahwa kesiapan pelaku usaha dalam menyesuaikan standar produksi dan rantai pasok menjadi kunci untuk memanfaatkan skema tersebut.

Peluang Hilirisasi dan Kerja Sama Industri

Anindya menambahkan, sejumlah asosiasi industri mulai menjajaki peluang kerja sama konkret dengan mitra di Amerika Serikat. Salah satunya melalui skema impor bahan baku yang diolah di dalam negeri sebelum diekspor kembali dengan nilai tambah.

Ia mencontohkan komunikasi yang dilakukan dengan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) terkait peluang tersebut.

“Tadi saya bicara dengan salah satu pimpinan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) yang ada di sini. Mereka ingin bicara dengan counterpart-nya supaya melihat apa yang bisa diimpor dari Amerika Serikat, tapi nantinya diolah dan dikirim balik ke Amerika (Serikat) dengan ada nilai tambah,” kata Anindya.

Menurutnya, skema tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi yang selama ini didorong pemerintah. Dengan pengolahan di dalam negeri, produk ekspor Indonesia tidak hanya mengandalkan bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

“Kalau memang permintaannya dari Amerika Serikat tentu masuk akal, apalagi kalau tarifnya nol,” tambah Anindya.

Ia menilai, kolaborasi industri lintas negara juga dapat memperkuat posisi produk Indonesia di pasar global.

Dukungan Diplomasi Ekonomi dan Kerja Sama Bisnis

Selain menyoroti tarif resiprokal, Kadin juga menyatakan dukungan terhadap upaya diplomasi ekonomi pemerintah dalam memperkuat hubungan dagang dan investasi dengan Amerika Serikat.

Dalam rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Amerika Serikat, tercatat penandatanganan 11 nota kesepahaman senilai USD 38,4 miliar antara pelaku usaha kedua negara.

Kesepakatan tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pertambangan, energi, agribisnis, tekstil dan garmen, furnitur, hingga teknologi.

Anindya menilai kerja sama tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam memperkuat posisinya di tengah persaingan ekonomi global. Selain meningkatkan arus investasi, kolaborasi bisnis juga diharapkan mampu memperluas akses pasar ekspor.

Ia menegaskan, hubungan yang baik dengan Amerika Serikat sebagai salah satu mitra dagang utama perlu terus dijaga. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kesiapan dunia usaha, peluang peningkatan ekspor nasional dinilai semakin terbuka.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |