Iran Serang Fasilitas LNG Qatar, Harga Gas Eropa Melonjak Tajam

2 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Produksi liquefied natural gas (LNG) Qatar terpaksa dihentikan setelah Iran melancarkan serangan ke dua fasilitas operasional utama negara tersebut. Serangan ini memperluas aksi balasan Teheran dengan menyasar infrastruktur energi negara-negara Teluk Persia.

Dikutip dari CNBC, Selasa (3/3/2026), Pemerintah Qatar pada Senin menyatakan penghentian sementara produksi dilakukan demi alasan keamanan. Kementerian Pertahanan Qatar sebelumnya mengungkapkan dua drone yang diluncurkan dari Iran menghantam fasilitas di wilayahnya, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, menyebutkan serangan terjadi di Ras Laffan Industrial City dan Mesaieed Industrial City—dua kawasan industri energi utama yang menjadi tulang punggung ekspor LNG Qatar.

Qatar sendiri merupakan salah satu pemasok LNG terbesar di dunia. Sekitar 20% ekspor LNG global berasal dari kawasan Teluk, terutama Qatar, dan dikirim melalui Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.

Harga Gas Eropa Melonjak, Saham Perusahaan Energi Menguat

Dampak penghentian produksi langsung terasa di pasar global. Kontrak berjangka gas alam Eropa melonjak tajam. Harga gas di Inggris melesat sekitar 50%, sementara kontrak berjangka Belanda naik lebih dari 45%.

Di Amerika Serikat, saham eksportir LNG ikut terdongkrak. Saham Cheniere Energy naik sekitar 6%, sedangkan Venture Global melonjak lebih dari 14%.

Iran sebelumnya meluncurkan serangan rudal ke sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk pada akhir pekan sebagai balasan atas serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.

Sumber industri juga menyebut kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco turut diserang drone. Kilang tersebut dilaporkan ditutup sementara sebagai langkah pencegahan.

Ancaman terhadap Pasokan Energi Global

LNG merupakan gas alam yang didinginkan hingga suhu minus 260 derajat Fahrenheit sehingga berubah menjadi cair dan dapat diangkut menggunakan kapal tanker ke berbagai negara.

Gas alam sendiri banyak digunakan untuk pembangkit listrik di berbagai belahan dunia. Gangguan terhadap produksi dan distribusi LNG, khususnya dari Qatar yang menjadi pemain utama, berpotensi memicu tekanan lanjutan pada harga energi global.

Selain itu, sekitar seperlima pasokan LNG dunia melewati Selat Hormuz. Jika ketegangan terus meningkat dan jalur pelayaran terganggu, maka risiko krisis energi global semakin terbuka.

Pasar kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, karena eskalasi lanjutan dapat memperburuk volatilitas harga energi sekaligus berdampak pada inflasi global.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |