Indonesia Capai Swasembada Pangan Lagi di Era Prabowo

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menetapkan Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Atas hal ini, ia menegaskan Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada negara lain untuk impor pangan.

"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini, hari Rabu 7 Januari 2026, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia, dengan ini mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan tahun 2025 bagi seluruh bangsa Indonesia," kata Prabowo dalam Acara Panen Raya, di Cilebar, Kawarang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).

Prabowo mengatakan, momen ini adalah catatan sejarah bagi bangsa Indonesia. la berterima kasih kepada semua pihak karena mewujudkan swasembada karena lebih cepat dari target 4 tahun.

"Memang saya beri target 4 tahun swasembada beras swasembada pangan, terima kasih seluruh komunitas pertanian di Indonesia, saudara bekerja keras, saudara bersatu, saudara kompak,” jelasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan USDA Rice Outlook April 2025 yang dirilis dan disajikan oleh Kementerian Pertanian, Indonesia diproyeksikan menjadi produsen beras terbesar di kawasan ASEAN.

Produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 34,6 juta ton (dalam ribuan hasil gilingan), jauh melampaui negara-negara ASEAN lainnya. Posisi kedua ditempati Vietnam dengan produksi sekitar 26,5 juta ton, disusul Thailand sebesar 20,1 juta ton.

Sementara itu, Filipina berada di peringkat keempat dengan estimasi produksi 12 juta ton, diikuti Kamboja sebesar 7,737 juta ton. Negara dengan produksi relatif lebih kecil adalah Laos yang diperkirakan menghasilkan 1,81 juta ton, serta Malaysia dengan 1,75 juta ton.

Stok Beras Nasional

Sementara, stok beras nasional Indonesia pada Desember 2025 mencapai 3,39 juta ton, yang tercatat sebagai stok tertinggi sepanjang sejarah dalam kurun 57 tahun terakhir sejak 1969. Data ini bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 dan disajikan oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Grafik memperlihatkan fluktuasi stok beras nasional dari tahun ke tahun, dengan kisaran umumnya berada di bawah 3 juta ton. Namun, pada akhir 2025 terjadi lonjakan signifikan hingga menembus angka 3,39 juta ton, melampaui rekor sebelumnya. Pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam pengelolaan cadangan pangan nasional.

Selanjutnya, kinerja ekspor pertanian Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan pada 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat nilai ekspor pertanian (segar dan olahan) pada Januari–Agustus 2025 mencapai Rp507,78 triliun, naik tajam dari Rp357,11 triliun pada Januari–Agustus 2024.

Pada 2024, ekspor pertanian masih didominasi oleh perkebunan (BUN) dengan nilai Rp330,73 triliun. Kontribusi sektor lainnya relatif lebih kecil, yakni hortikultura Rp10,41 triliun, peternakan Rp14,02 triliun, serta tanaman pangan Rp1,94 triliun. Struktur ini menunjukkan ketergantungan ekspor pada komoditas perkebunan sebagai tulang punggung devisa sektor pertanian.

Ekspor Perkebunan

Memasuki 2025, dominasi sektor perkebunan semakin menguat dengan nilai ekspor mencapai Rp479,44 triliun. Sektor pendukung lainnya juga mengalami peningkatan, antara lain peternakan sebesar Rp15,45 triliun, hortikultura Rp10,95 triliun, dan tanaman pangan Rp1,93 triliun.

Akhirnya, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menunjukkan tren pemulihan dan penguatan pada Triwulan I 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 memperlihatkan perkembangan pertumbuhan PDB dari Triwulan I 2024 hingga Triwulan I 2025 dengan dinamika yang cukup kontras.

Pada Triwulan I 2024, pertumbuhan PDB tercatat mengalami kontraksi sebesar -3,54 persen. Namun, kondisi ini mulai membaik pada Triwulan II 2024 dengan pertumbuhan positif 3,25 persen. Memasuki Triwulan III 2024, laju pertumbuhan kembali melambat menjadi 1,69 persen, lalu menurun lagi pada Triwulan IV 2024 ke level 0,71 persen. 

Menguatnya Aktivitas Ekonomi

Meski sempat melemah pada paruh kedua 2024, pemulihan signifikan terjadi pada Triwulan I 2025, di mana pertumbuhan PDB melonjak tajam hingga 10,52 persen. Lonjakan ini menjadi capaian tertinggi dalam periode yang ditampilkan dan mencerminkan menguatnya aktivitas ekonomi nasional.

Sementara itu, garis pembanding berwarna hijau menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahunan (year-on-year) yang relatif stabil sepanjang periode, berada di kisaran 4,87 hingga 5,11 persen.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |