Indonesia Bakal Impor 1.000 Ton Beras Khusus dari AS, Mentan: Cuma Buat Turis-Investor

5 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan impor beras khusus dari Amerika Serikat (AS) akan digunakan untuk konsumsi terbatas. Jumlah yang akan diimpor pun sangat kecil dibandingkan dengan cadangan beras pemerintah (CBP).

Diketahui, dalam Agreement on Resiprocal Trade (ART) yang diteken sebelumnya, RI akan mendatangkan 1.000 ton beras khusus. Amran menilai, jumlah tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan beras konsumsi nasional.

"Jumlah beras di Bulog hampir 4 juta (ton), banyak gak? kalau dibagi 1.000 itu berapa? 1.000 bagi 4 juta berapa? kalau tidak salah 4 nolnya, benar ga? 0,0004 (persen), kecil ga? terjawab ya, selesai," kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Dia menegaskan 1.000 ton beras khusus itu hanya akan dikonsumsi oleh turis maupun investor. Bisa dibilang, beras itu tak akan disebar ke pasar untuk konsumsi masyarakat umum.

"Kalau diimpor itu adalah beras khusus karena basmati sesuai dengan turis-turis yang datang, Investor datang," ungkapnya.

Meski begitu, rencana impor 1.000 ton dari AS masih belum dipastikan pelaksanaannya. Sementara, ekspor 2.000 ton beras dipastikan dikirim ke Arab Saudi pekan depan. "2.000 ton akan diekspor minggu depan, 1.000 ton (impor beras dari AS) belum pasti, itu pun beras khusus," tegas dia.

Impor Beras Khusus

Sebelumnya, Pemerintah angkat bicara terkait rencana impor beras dari Amerika Serikat (AS). Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) memastikan beras yang akan didatangkan bukan beras biasa yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari, melainkan beras khusus dengan spesifikasi tertentu.

Impor tersebut disebut hanya sebesar 1.000 ton dan masuk dalam skema kerja sama dagang timbal balik Indonesia–AS yang dikenal sebagai Agreement of Reciprocal Trade (ART).

“Oh yang beras, itu mengenai beras khusus,” kata Zulhas usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Bukan Konsumsi Masyarakat Umum

Ia menjelaskan, jenis beras yang diimpor menyasar segmen tertentu, seperti beras Jepang atau beras khusus bagi kebutuhan diet tertentu.

“Seperti Jepang gitu, ada beras Jepang, disebut beras khusus. Nah kalau beras khusus, ada juga beras buat orang yang kena gula gitu. Kita yang jelas bukan beras yang buat makanan kita,” ujarnya.

Zulhas menegaskan, kebijakan ini bukan untuk menggantikan beras lokal yang menjadi konsumsi mayoritas masyarakat Indonesia.

Menurut Zulhas, impor beras khusus bukan hal baru. Indonesia juga memiliki skema serupa dengan Jepang, terutama untuk memenuhi kebutuhan restoran Jepang yang memerlukan jenis beras tertentu dan tidak diproduksi secara massal di dalam negeri.

Harga Mahal

Saat ditanya mengapa tidak diproduksi di dalam negeri, ia menyebut faktor harga menjadi pertimbangan utama.

“Mahal itu, 100 ribu lebih satu kilo kan? Siapa mau beli kan? Yang beli kan yang makan di restoran Jepang aja,” katanya.

Ia kembali menegaskan, kebijakan ini bukan karena Indonesia tidak mampu memproduksi beras tersebut, melainkan karena ceruk pasarnya sangat spesifik dan harga jualnya tinggi.

“Kayak beras Jepang tuh Rp 100 ribu kan satu kilogramnya,” tambahnya.

Dengan demikian, pemerintah memastikan impor 1.000 ton beras khusus dari AS tidak akan mengganggu pasar beras nasional maupun produksi petani dalam negeri, karena menyasar segmen berbeda dari konsumsi utama masyarakat.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |