Harga Minyak Dunia Turun Tipis, Arab Saudi Tambah Pasokan Lewat Oman

3 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah melandai pada Rabu (16/9/2026) setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi menawarkan pasokan kargo minyak tambahan melalui Oman. Langkah ini meredam kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah, meski harga solar di Eropa masih berada di kisaran rekor tertinggi.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent terkoreksi 59 sen atau 0,54% menjadi US$ 108,16 per barel pada pukul 09.26 GMT. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 1,20 atau 1,13% ke posisi US$ 104,63 per barel.

Pada sesi sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari US$ 3. Kenaikan tersebut dipicu oleh laporan pelaku industri pelayaran yang menyebutkan bahwa aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan ekspor Laut Merah, Yanbu, dihentikan sementara. Arab Saudi juga membatalkan sejumlah pengiriman kargo ke konsumen Eropa, yang memperkuat kekhawatiran akan berlanjutnya gangguan pada jalur ekspor vital tersebut selama beberapa pekan.

Meski begitu, Arab Saudi mulai menawarkan pengiriman minyak mentah tambahan kepada kilang-kilang di Asia melalui metode pemindahan antarkapal (ship-to-ship transfer) di lepas pantai pelabuhan Sohar, Oman. Langkah ini diambil usai serangan drone merusak jalur pipa minyak utamanya yang mengarah ke Laut Merah.

"Kabar mengenai ekspor Arab Saudi dari wilayah Teluk mengindikasikan bahwa kekhawatiran atas gangguan pasokan yang lebih luas mulai mereda," kata analis UBS, Giovanni Staunovo dikutip dari Yahoo Finance, Rabu (16/9/2026).

Data awal pelayaran pada Rabu menunjukkan, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa tercatat hanya empat unit, turun dari tujuh kapal pada hari sebelumnya. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata harian 10 hari terakhir yang mencapai 18 kapal.

Padahal, jalur perairan tersebut menyalurkan sepertujuh pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum konflik antara AS-Israel dan Iran meletus pada akhir Februari lalu.

Di sisi lain, analis Macquarie menilai arus minyak mentah, kondensat, dan produk olahan melalui Selat Hormuz sejauh ini masih relatif stabil di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Arus pengiriman bahkan diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 7,5 juta barel per hari sejak pertempuran kembali berkobar pada 30 Agustus. Mereka melihat keterkaitan antara eskalasi di selat tersebut dan kelancaran arus minyak kini kian melonggar.

Dalam catatan terpisah, Citi memprediksi eskalasi jangka pendek di Timur Tengah masih akan menopang harga minyak mentah dan bahan bakar olahan. Kondisi ini diperkirakan berlangsung sebelum Selat Hormuz akhirnya kembali dibuka pada kuartal IV 2026 mendatang melalui dukungan diplomasi regional.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |