Harga Minyak Dunia Turun Hampir 20% di 2025, Pasar Dibayangi Kelebihan Pasokan

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan akhir tahun 2025 dan mencatatkan penurunan tahunan terdalam sejak 2020.

Sepanjang 2025, harga minyak anjlok hampir 20% seiring meningkatnya ekspektasi kelebihan pasokan di tengah tahun yang diwarnai perang, kenaikan tarif, peningkatan produksi OPEC+, serta sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela.

Dikutip dari CNBC, Kamis (1/1/2026), harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 19% sepanjang 2025, menjadi penurunan persentase tahunan terbesar sejak 2020 sekaligus tahun ketiga berturut-turut mengalami pelemahan—rekor terpanjang dalam sejarah.

Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) juga membukukan penurunan tahunan hampir 20%.

Pada hari terakhir perdagangan tahun ini, kontrak berjangka Brent ditutup di level USD 60,85 per barel, turun 48 sen atau 0,8%. Harga WTI AS juga melemah 53 sen atau 0,9% dan ditutup di USD 57,42 per barel.

Tekanan terhadap harga minyak mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global yang melimpah, meski risiko geopolitik masih membayangi pergerakan harga energi dunia.

Aksi Lindung Nilai Produsen Minyak AS

Analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying, memperkirakan harga minyak Brent masih berpotensi melemah pada awal 2026 sebelum kembali stabil. Ia memprediksi Brent akan turun ke level USD 55 per barel pada kuartal pertama, lalu pulih ke sekitar USD 60 per barel sepanjang sisa tahun 2026 seiring normalisasi pertumbuhan pasokan dan permintaan yang cenderung datar.

"Alasan mengapa kami lebih pesimis (bearish) dibandingkan pasar dalam jangka pendek adalah karena kami menilai para produsen minyak shale AS telah melakukan lindung nilai (hedging) di level yang tinggi," kata Ying.

"Sehingga pasokan dari produsen shale akan lebih konsisten dan tidak sensitif terhadap pergerakan harga," ia menambahkan. 

Artinya, produsen minyak serpih AS dinilai tetap mampu menjaga produksi meski harga melemah, sehingga pasokan global berpotensi tetap tinggi. Kondisi inilah yang membuat tekanan terhadap harga minyak diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek.

Penurunan Persediaan Minyak AS

Data terbaru dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS memang turun pekan lalu, namun stok bensin dan distilat justru melonjak melebihi perkiraan pasar.

"Laporan ini menunjukkan dukungan moderat terhadap penurunan stok minyak mentah (crude drawdown), namun detail di dalamnya tidak terlalu bagus. Januari dan Februari kemungkinan akan menjadi periode yang sulit seiring berakhirnya masa liburan," kata John Kilduff, mitra di Again Capital Markets.

EIA mencatat persediaan minyak mentah AS turun 1,9 juta barel menjadi 422,9 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Desember. Angka ini lebih besar dari perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan 867 ribu barel.

Sebaliknya, stok bensin AS melonjak 5,8 juta barel menjadi 234,3 juta barel, jauh di atas ekspektasi kenaikan 1,9 juta barel. Stok distilat—termasuk diesel dan minyak pemanas—juga naik 5 juta barel menjadi 123,7 juta barel.

Sentimen Geopolitik

Dari sisi geopolitik, pasar minyak sempat menguat di awal 2025 setelah mantan Presiden AS Joe Biden mengakhiri masa jabatannya dengan memperketat sanksi terhadap Rusia, yang mengganggu pasokan ke China dan India. Dampak perang Ukraina juga meningkat setelah serangan drone merusak infrastruktur Rusia dan mengganggu ekspor minyak Kazakhstan.

Konflik Iran-Israel selama 12 hari pada Juni turut menambah kekhawatiran pasokan dengan terganggunya jalur pengiriman di Selat Hormuz. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir, termasuk krisis Yaman yang melibatkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, serta langkah Presiden AS Donald Trump memblokade ekspor minyak Venezuela dan mengancam serangan lanjutan ke Iran.

Namun, harga minyak kembali melemah setelah OPEC+ mempercepat peningkatan produksi dan kekhawatiran dampak tarif AS terhadap pertumbuhan ekonomi global. OPEC+ kini memperkirakan pasokan akan melampaui permintaan pada 2026, meski risiko geopolitik dinilai tetap menjadi penyangga harga.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |