Harga Minyak Dunia Tembus USD 100, Aksi Iran Jadi Penyebab

8 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Rabu, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kenaikan terjadi setelah Iran mengklaim telah menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang gencatan senjata.

Mengutip CNBC, Kamis (23/4/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik lebih dari 3% dan ditutup di level USD 101,91 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat lebih dari 3% ke posisi USD 92,96 per barel.

Lonjakan harga ini terjadi karena pasar menilai perpanjangan gencatan senjata belum tentu akan membuka kembali jalur ekspor minyak melalui Selat Hormuz.

Selama konflik berlangsung, ekspor minyak dari negara-negara Teluk Timur Tengah mengalami penurunan drastis, bahkan disebut sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz pada Rabu dilaporkan masih sangat terbatas. Para pelaku pengiriman menghadapi risiko keamanan yang tinggi di jalur strategis tersebut.

Iran Sita Kapal

Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyita dua kapal kontainer yang mencoba melintas tanpa izin di wilayah tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Tasnim.

Di sisi lain, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran, meskipun gencatan senjata masih berlangsung.

Trump diketahui memperpanjang gencatan senjata sementara pada Selasa, setelah rencana AS untuk menggelar putaran kedua negosiasi damai dengan Iran di Pakistan gagal terlaksana.

Presiden AS itu juga mengklaim bahwa kepemimpinan Iran tengah terpecah. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata akan tetap berlaku hingga Iran mampu menyampaikan proposal terpadu untuk mengakhiri konflik dengan Washington dan Israel.

Perpanjangan gencatan senjata ini menegaskan bahwa jalan menuju de-eskalasi konflik masih penuh ketidakpastian. Meski langkah tersebut menunda risiko serangan militer dalam waktu dekat, belum ada terobosan diplomatik yang benar-benar membuka kembali Selat Hormuz bagi kapal komersial.

Iran Masih Percaya Diri

Presiden Rapidan Energy, Bob McNally, menilai bahwa meskipun kepemimpinan Iran terlihat terpecah, pemerintahan di Teheran masih berjalan efektif.

Ia menyebut Iran percaya diri memiliki posisi tawar lebih kuat dibandingkan AS.

“Mereka siap bertahan dalam kondisi sulit selama enam bulan untuk mempertahankan kendali atas jalur vital ini, sambil menunggu harga minyak naik lebih tinggi dan pasar saham melemah,” ujar McNally.

“Mereka yakin akan keluar dari konflik ini dengan tetap bertahan, memberi pelajaran, dan bahkan mungkin menguasai sebagian Selat Hormuz,” tambahnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |