Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Negosiasi Nuklir AS-Iran

22 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Pelaku pasar mencermati perkembangan pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir negara anggota OPEC tersebut.

Dikutip dari CNBC, Jumat (27/2/2026), harga minyak mentah Brent ditutup turun 10 sen atau 0,14% ke level USD 70,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 21 sen atau 0,32% menjadi USD 65,21 per barel.

Sepanjang sesi perdagangan, harga minyak sempat bergerak naik turun (whipsaw) seiring munculnya berbagai laporan terkait jalannya negosiasi di Jenewa. Pergerakan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan jika ketegangan meningkat.

Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Jenewa untuk membahas sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.

Langkah ini dilakukan guna mencegah potensi konflik, setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan peningkatan kekuatan militer di kawasan tersebut.

Harga Sempat Naik Tajam, Lalu Berbalik Arah

Harga minyak sempat melonjak lebih dari USD 1 per barel setelah laporan media menyebut pembicaraan menemui jalan buntu. Kebuntuan terjadi akibat desakan Amerika Serikat agar Iran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, termasuk menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya hingga 60% kepada AS.

Namun, reli tersebut tidak bertahan lama. Harga kembali turun setelah kedua negara sepakat memperpanjang pembicaraan hingga pekan depan.

Menurut Janiv Shah, Wakil Presiden Analisis Minyak di Rystad Energy, keputusan memperpanjang negosiasi mengurangi kemungkinan terjadinya serangan dalam waktu dekat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menggambarkan pertemuan Kamis sebagai pembicaraan paling serius dengan Amerika Serikat sejauh ini. Ia menegaskan Iran telah menyampaikan secara jelas tuntutan pencabutan sanksi serta mekanisme pelaksanaannya. Araqchi juga memastikan negosiasi akan dilanjutkan pekan depan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, sebelumnya menyatakan bahwa kemajuan signifikan telah dicapai dalam pembicaraan tersebut.

Pasar Hapus Premi Risiko Geopolitik

Pelaku pasar menilai pelemahan harga minyak kali ini lebih dipicu oleh perubahan sentimen ketimbang faktor fundamental.

“Penurunan harga minyak ini pada dasarnya hanya karena pasar menghapus premi risiko geopolitik,” kata Shohruh Zukhritdinov, trader minyak yang berbasis di Dubai.

Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan sanksi yang lebih ketat atau gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.

“Pelaku pasar sudah mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan sanksi yang lebih ketat atau gangguan distribusi melalui Selat Hormuz. Namun secara fundamental tidak ada yang berubah — pasokan masih melimpah, OPEC+ berpotensi menambah produksi pada April, dan Iran mempercepat ekspor. Jadi pergerakan ini lebih didorong sentimen pasar, bukan perubahan struktur pasokan,” ujarnya.

Artinya, secara fundamental pasokan minyak global masih melimpah. Bahkan, OPEC+ berpotensi menambah produksi pada April, sementara Iran juga mempercepat ekspor. Karena itu, tekanan harga saat ini lebih didorong faktor psikologis pasar dibanding perubahan struktur pasokan global.

Ke depan, arah harga minyak masih akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran serta dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |