Harga Minyak Dunia Melambung Usai Trump Mau Serang Iran

21 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan akan memutuskan apakah akan melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu 10 hari ke depan. Pernyataan ini langsung memengaruhi harga minyak dunia

Pernyataan serangan militer ke Iran ini disampaikan Trump pada Kamis waktu setempat dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian yang ia bentuk.

“Jadi sekarang kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin juga tidak,” ujar Trump dikutip dari CNBC, Jumat (20/2/2026).

“Mungkin kami akan mencapai kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam waktu sekitar 10 hari ke depan,” tambah dia. 

Ia mengisyaratkan masih terbuka peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran, meskipun opsi militer tetap dipertimbangkan.

Pernyataan tersebut langsung memengaruhi pasar energi global.

Harga minyak mentah Amerika Serikat naik USD 1,24 atau 1,9 persen menjadi USD 66,43 per barel. Sementara itu, harga minyak acuan dunia Brent menguat USD 1,31 atau 1,86 persen ke level USD 71,66 per barel.

Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.

Negosiasi Nuklir dan Peringatan Gedung Putih

Trump mengakui bahwa menjalin kesepakatan dengan Iran bukan perkara mudah.

“Selama bertahun-tahun terbukti tidak mudah membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran,” kata Trump.

“Kita harus membuat kesepakatan yang bermakna, jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi.”

Harga minyak terus bergerak naik sepanjang pekan ini karena kekhawatiran serangan AS terhadap Iran semakin meningkat. Minyak mentah WTI tercatat naik lebih dari 5 persen dalam sepekan dan hampir 16 persen sejak awal tahun.

Pekan ini, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner menggelar pembicaraan dengan Iran terkait program nuklir di Jenewa, Swiss.

Namun, Wakil Presiden JD Vance menyatakan Iran belum memenuhi batasan-batasan yang ditetapkan Trump dalam perundingan tersebut.

Sementara itu, Gedung Putih menilai masih banyak alasan yang dapat dijadikan dasar untuk melakukan serangan terhadap Iran.

Kekuatan Militer AS dan Ancaman Gangguan Pasokan Minyak

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan terdapat “banyak alasan dan argumen” untuk melakukan serangan terhadap Iran.

Meski demikian, ia menyebut ada sedikit kemajuan dalam pembicaraan di Jenewa. Namun, menurutnya, posisi AS dan Iran masih sangat berbeda dalam sejumlah isu penting.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga dilaporkan tengah memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini berada di wilayah tersebut, sementara kapal induk kedua, USS Gerald Ford, sedang dalam perjalanan.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz pekan ini. Selat tersebut merupakan jalur penting perdagangan minyak dunia.

Para pelaku pasar khawatir konflik terbuka antara AS dan Iran dapat mengganggu arus distribusi minyak melalui selat tersebut. Jika terjadi gangguan, pasokan energi global berpotensi terganggu dan mendorong harga minyak semakin tinggi.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |