Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD 100, Pasokan Global Terancam

6 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat dan bertahan di atas level USD 100 per barel untuk hari kedua berturut-turut. Kenaikan ini terjadi ketika konflik Iran memasuki pekan ketiga, sementara lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz masih praktis terhenti.

Mengutip CNBC, Sabtu (14/2/2026), harga minyak mentah Brent naik 2,67% atau USD 2,68 menjadi USD 103,14 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) menguat 3,11% atau USD 2,98 ke posisi USD 98,71 per barel.

Lonjakan harga terjadi meskipun Amerika Serikat (AS) dan sekutunya telah meluncurkan sejumlah langkah untuk menekan biaya energi.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) bahkan menyetujui pelepasan cadangan minyak sebanyak 400 juta barel. Langkah ini menjadi aksi pelepasan cadangan energi terbesar dalam sejarah.

Selain itu, AS juga telah memberikan pengecualian selama 30 hari bagi India untuk membeli minyak Rusia yang sebelumnya terkena sanksi.

AS Ambil Berbagai Langkah Redam Harga Energi

Presiden AS Donald Trump juga mempertimbangkan untuk melonggarkan aturan dalam Jones Act. Aturan tersebut selama ini mewajibkan kapal berbendera AS untuk mengangkut barang antar pelabuhan domestik, termasuk minyak dan gas.

Langkah pelonggaran aturan tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya logistik energi di dalam negeri.

Meski berbagai kebijakan telah digulirkan, para pelaku pasar tetap memantau perkembangan konflik di Timur Tengah. Trump bahkan mengisyaratkan bahwa perang belum akan segera berakhir.

“Kami memiliki kekuatan tembak yang tak tertandingi, amunisi tanpa batas, dan banyak waktu,” kata Trump sebelum meminta para pendukungnya untuk “melihat apa yang akan terjadi” pada rezim Iran.

Sepanjang pekan ini, harga minyak kembali mencatat kenaikan. Minyak Brent telah naik sekitar 10% setelah sebelumnya melonjak 27,9% pada pekan lalu—yang menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak pandemi Covid-19 pada 2020.

Sementara itu, minyak WTI yang pekan lalu mencatat performa terbaik sejak 1983, kembali ditutup naik lebih dari 8% sepanjang pekan ini.

Kekhawatiran Guncangan Ekonomi Global

Ketegangan geopolitik juga semakin meningkat setelah sejumlah kapal asing di sekitar Selat Hormuz diserang dalam beberapa hari terakhir. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia.

Serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu guncangan ekonomi global.

“Bersiaplah untuk harga minyak mencapai USD 200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan kawasan, yang kini telah Anda destabilkan,” kata juru bicara komando militer Iran, Ebrahim Zolfaqari.

CEO perusahaan produksi minyak Inggris EnQuest, Amjad Bseisu, mengatakan pasar minyak belum pernah menghadapi situasi sebesar ini sebelumnya.

“Setiap hari terjadi penundaan, sekitar 20 juta barel hilang dari pasar. Dampaknya sudah terasa dan akan terus berlanjut,” ujarnya.

Ia menilai krisis energi kali ini berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, situasi serupa terakhir kali terjadi saat embargo minyak Arab pada 1970-an yang menyebabkan harga minyak melonjak hingga empat kali lipat.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |