Harga Kedelai Tembus Rp 11.000, Perajin Tahu dan Tempe Makin Tergencet

2 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Harga kedelai yang terus melonjak dalam sebulan terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengrajin tahu dan tempe. Kenaikan ini dipicu dinamika geopolitik global dan berpotensi menekan biaya produksi pelaku usaha kecil.

Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Hedy Kuswanto, mengungkapkan bahwa harga kedelai dalam satu bulan terakhir terus mengalami kenaikan seiring dinamika geopolitik global.

Ia menjelaskan, sebelumnya harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe berada di kisaran Rp 9.000 hingga Rp 9.200 per kilogram. Namun kini, harga tersebut telah melonjak menjadi Rp 10.800 hingga Rp 11.000 per kilogram.

“Memang kecenderungan tren harga kedelai terus naik, terutama dalam satu bulan terakhir akibat faktor geopolitik global,” kata Hedy, Sabtu (3/4/2026).

Meski demikian, dampak kenaikan harga belum sepenuhnya dirasakan para pelaku usaha. Hal ini karena sebagian besar anggota koperasi belum kembali berproduksi pasca libur Hari Raya Idulfitri.

“Sebagian besar anggota kami masih berada di kampung halaman, sehingga belum sepenuhnya kembali beraktivitas produksi,” ujarnya.

Perpres Pajale

Hedy memperkirakan keluhan dari pelaku usaha kecil akan semakin meningkat setelah seluruh pengrajin kembali berproduksi. Menurutnya, tekanan biaya bahan baku berpotensi memicu protes yang lebih luas.

“Saya yakin ketika semua pelaku usaha kecil kembali produksi, keluhan mereka akan semakin terdengar. Mereka akan menyuarakan aspirasi kepada kami sebagai pengurus untuk diteruskan kepada pemerintah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti implementasi kebijakan pemerintah terkait program Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pajale (padi, jagung, dan kedelai) yang dinilai belum berjalan optimal sejak era pemerintahan sebelumnya hingga saat ini.

“Pemerintah sebenarnya memiliki Perpres Pajale, tetapi implementasinya dari masa ke masa belum maksimal, entah apa kendalanya,” kata Hedy.

Surati Presiden

Hedy menegaskan, jika harga kedelai terus melampaui batas kemampuan pelaku usaha, kondisi tersebut dapat mengancam keberlanjutan usaha tahu dan tempe, khususnya bagi pengrajin skala kecil. Karena itu, pihaknya berencana menyurati Presiden Prabowo Subianto agar kondisi tidak semakin memburuk.

“Apabila harga kedelai terus meningkat, hal ini akan sangat memberatkan kami,” ucapnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |