Harga Gas Dunia 2026 Diramal Sentuh Level Termurah Sejak Covid-19

1 day ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Harga bensin diperkirakan akan menjadi salah satu sumber kelegaan utama bagi warga Amerika Serikat pada 2026, di tengah tekanan biaya hidup yang masih membayangi perekonomian global.

Terlepas dari ketidakpastian geopolitik, termasuk situasi politik dan keamanan di Venezuela, para peramal memperkirakan tahun 2026 akan menjadi periode dengan harga bensin paling murah sejak pandemi Covid-19 mengguncang pasar energi dunia.

Platform penghematan bahan bakar GasBuddy memproyeksikan harga bensin rata-rata nasional di Amerika Serikat hanya mencapai USD 2,97, sekitar Rp 49 ribu (kurs USD 1 = Rp 16.765) per galon sepanjang 2026.

Jika perkiraan ini terealisasi, maka 2026 akan menjadi tahun keempat berturut-turut penurunan harga bensin sekaligus menjadi tahun pertama dengan rata-rata harga tahunan di bawah USD 3, sekitar Rp 50 ribu per galon sejak 2020.

Proyeksi ini menjadi kontras tajam dibandingkan kondisi pada 2022, ketika harga bensin melonjak melampaui USD 5, sekitar Rp 83 ribu per galon akibat lonjakan harga minyak global setelah invasi Rusia ke Ukraina, yang turut mendorong inflasi AS menembus level tertinggi dalam beberapa dekade.

Optimisme ini muncul meskipun Amerika Serikat baru-baru ini melakukan intervensi di Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Menurut GasBuddy, dampak peristiwa tersebut terhadap harga bensin global diperkirakan sangat terbatas dalam jangka pendek.

Investor dan konsumen pun melihat prospek harga BBM yang lebih rendah sebagai titik terang di tengah masih mahalnya biaya kebutuhan pokok, listrik, dan pemanas rumah yang terus membebani rumah tangga.

GasBuddy: Dampak Venezuela Minim dalam Jangka Pendek

Kepala analisis perminyakan GasBuddy, Patrick De Haan, menegaskan bahwa ketidakpastian di Venezuela tidak mengubah pandangan optimistis terhadap harga bensin tahun ini.

Menurutnya, membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang telah lama rusak akan membutuhkan waktu yang panjang, sehingga tidak berdampak signifikan dalam waktu dekat.

“Dalam jangka pendek, kami melihat sedikit gangguan atau perubahan sebagai akibat dari peristiwa beberapa hari terakhir,” ujar De Haan. Hal ini tercermin dari pergerakan harga minyak berjangka yang relatif stabil setelah perdagangan dibuka kembali pasca intervensi AS di Venezuela.

Konsumen Diperkirakan Hemat Miliaran Dolar

GasBuddy memperkirakan warga Amerika akan menghabiskan sekitar USD 11 miliar, sekitar Rp 184 triliun lebih sedikit untuk bensin dibandingkan tahun 2025. Rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk bahan bakar diproyeksikan turun menjadi USD 2.083, sekitar hampir Rp 35 juta  per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2022 yang mencapai USD 2.716, sekitar Rp 45,5 juta.

Sebanyak 10 negara bagian diperkirakan menikmati harga bensin rata-rata tahunan di bawah USD 2,75, sekitar Rp 46 ribu per galon, termasuk Texas, Louisiana, Alabama, dan Oklahoma. Harga bensin diperkirakan mencapai puncaknya pada Mei di level USD 3,12, sekitar Rp 52 ribu per galon, sebelum kembali turun menjadi sekitar USD 2,83, sekitar Rp 47 ribu per galon pada akhir tahun.

Pasokan Minyak Melimpah Tekan Harga

Penurunan harga bensin didorong oleh melemahnya harga minyak global. Pada 2025, harga minyak turun sekitar 20 persen, penurunan tahunan terbesar sejak 2020. Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan harga minyak AS rata-rata hanya USD 51, sekitar Rp 855 ribu per barel pada 2026, turun signifikan dari USD 65, sekitar Rp 1 juta pada 2025 dan USD 77, sekitar Rp 1,2 juta pada 2024.

Kondisi ini dipicu oleh peningkatan pasokan, terutama dari OPEC yang dipimpin Arab Saudi serta produksi minyak AS yang tetap kuat. Meski demikian, harga rendah mulai membuat sejumlah perusahaan minyak AS mengurangi aktivitas pengeboran.

Risiko Tetap Membayangi

Meski prospek harga bensin terlihat cerah, sejumlah risiko tetap mengintai. Ketidakstabilan geopolitik di Venezuela, konflik Rusia-Ukraina, hingga potensi perubahan kebijakan produksi OPEC dapat sewaktu-waktu mengganggu keseimbangan pasar energi global.

Namun untuk saat ini, para analis sepakat bahwa harga bensin berpeluang tetap menjadi titik terang di tengah tantangan keterjangkauan biaya hidup yang masih dirasakan banyak konsumen.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |