Harga Emas Nyaris Sentuh USD 5.000, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Deg-degan

2 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin setelah sebelumnya mengalami tekanan. Kekhawatiran bahwa inflasi akibat konflik di Timur Tengah dapat membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama menahan kenaikan harga logam mulia tersebut.

Mengutip CNBC, Selasa (17/3/2026), harga emas spot tercatat turun 0,4% menjadi USD 4.998,69 per ounce. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 19 Februari pada sesi perdagangan yang sama.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga turun 1,1% menjadi USD 5.004,90 per ounce.

Di sisi lain, nilai tukar dolar AS sempat melemah dari posisi tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Kondisi tersebut sebenarnya membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih menarik bagi investor yang memegang mata uang lain.

Namun demikian, tekanan dari potensi inflasi yang lebih tinggi dinilai lebih dominan memengaruhi pergerakan harga emas saat ini.

Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

“Dengan harga minyak yang lebih tinggi, inflasi juga akan meningkat. Jika inflasi naik, bank sentral tidak akan seantusias enam bulan lalu untuk menurunkan suku bunga, dan itu menjadi faktor negatif bagi harga emas,” ujar Haberkorn.

Meski begitu, ia tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang.

“Saya masih sangat bullish terhadap emas, melihat kondisi yang terjadi di seluruh dunia. Masih banyak dana yang menunggu di luar pasar dan siap masuk, dan saya masih memperkirakan harga emas bisa mencapai US$6.000 per ounce,” kata dia.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Namun, ketika suku bunga tinggi, emas biasanya kurang diminati karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen investasi lainnya.

Konflik Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar

Ketegangan geopolitik juga menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini telah memasuki pekan ketiga tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Konflik tersebut bahkan menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Sepanjang tahun ini, harga minyak global tercatat telah melonjak lebih dari 60%, meski pada perdagangan Senin sempat mengalami penurunan.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat minggu ini. Di antaranya data Producer Price Index (PPI), keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, pidato Ketua The Fed Jerome Powell, serta laporan mingguan klaim pengangguran.

Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Selasa dan Rabu. Data ekonomi terbaru juga menunjukkan belum ada perubahan signifikan pada prospek ekonomi.

Di saat yang sama, The Fed sedang memasuki masa transisi kepemimpinan setelah Kevin Warsh dicalonkan oleh Donald Trump untuk menjadi pemimpin baru bank sentral tersebut.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |