Harga Emas Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Investor Berburu Safe Haven

3 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat pada perdagangan Senin seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah akan berlangsung lebih lama. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Mengutip CNBC, Selasa (3/3/2026), harga emas spot tercatat naik 0,4% menjadi USD 5.297,31 per ounce pada pukul 18.31 GMT. Meski sempat memangkas kenaikan akibat aksi ambil untung setelah sebelumnya melonjak lebih dari 2% dalam sesi yang sama, harga emas tetap bertahan di zona hijau.

Sebelumnya, emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 5.594,82 per ounce pada 29 Januari.

Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat ditutup naik 1,2% di posisi USD 5.311,60 per ounce.

Kenaikan indeks dolar AS sebesar 1% turut menjadi perhatian pasar. Penguatan dolar membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, David Meger, mengatakan pasar masih mencoba membaca arah konflik ke depan.

“Untuk saat ini, pasar sedang mencoba mencari tahu apakah serangan-serangan ini akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya.

“Saya pikir ketidakpastian itulah yang kemungkinan besar akan menopang harga,” tambah Meger.

Perang Udara Meluas, Harga Minyak dan Gas Ikut Melonjak

Konflik udara antara AS dan Israel melawan Iran semakin meluas dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Israel dilaporkan menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “gelombang besar” serangan lanjutan akan segera terjadi, meski tidak merinci detailnya.

Di sisi lain, harga minyak dan gas melonjak tajam. Serangan militer menyebabkan penutupan sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah serta mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.

Analis SP Angel menilai meningkatnya fragmentasi geopolitik telah mendorong bank sentral negara-negara BRICS mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS dan beralih ke emas. Tren ini diperkirakan masih akan berlanjut.

Sementara itu, BNP Paribas memperkirakan permintaan investasi emas fisik akan menjadi salah satu pendorong utama pasar emas tahun ini.

Emas Cetak Kenaikan 23% Tahun Ini, Pasar Pantau Data Tenaga Kerja AS

Emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian global telah mencetak sejumlah rekor harga sepanjang tahun ini. Secara keseluruhan, harga emas telah melonjak hampir 23% sejak awal tahun.

Reli tersebut melanjutkan lonjakan spektakuler sebesar 64% sepanjang 2025, didorong oleh pembelian besar-besaran bank sentral, arus masuk dana ke exchange-traded funds (ETF), serta ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih longgar.

Namun, menurut tiga sumber industri logam, arus perdagangan emas fisik menuju dan dari Dubai sebagai pusat perdagangan bullion global diperkirakan akan sangat terganggu dalam beberapa hari ke depan. Hal ini terjadi karena maskapai penerbangan membatalkan sejumlah penerbangan akibat konflik.

Dari sisi data ekonomi, pelaku pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls AS yang akan dirilis pekan ini.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 5,7% menjadi USD 88,46 per ounce setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari. Harga platinum turun 2,7% menjadi USD 2.300,50, sedangkan paladium melemah 0,9% ke posisi USD 1.770,66 per ounce.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |