Harga Emas Hari Ini Diprediksi Melemah, XAU/USD Tertekan Sentimen Global

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan harga emas dunia pada perdagangan Selasa, 7 April 2026 diperkirakan masih berada dalam tekanan. Kondisi ini dipicu kombinasi sentimen teknikal dan fundamental yang cenderung negatif.

Analis Dupoin Futures Indonesia Geraldo Kofit menjelaskan, pergerakan XAU/USD saat ini menunjukkan kecenderungan bearish yang cukup kuat, terutama pada timeframe H4.

Secara teknikal, harga emas gagal mempertahankan momentum kenaikan di area resistance penting. Kondisi ini terlihat dari terbentuknya pola candlestick bearish yang dominan, yang menandakan tekanan jual masih menguasai pasar.

Selain itu, harga juga telah menembus ke bawah indikator Moving Average (MA) 21 dan 34. Posisi ini semakin memperkuat sinyal bahwa tren penurunan masih berlanjut dalam jangka menengah.

"Struktur bearish yang terbentuk membuka peluang bagi emas untuk melanjutkan pelemahan menuju area support terdekat" jelas Geraldo dalam risetnya, Selasa (7/4/2026).

Apabila tekanan jual terus berlanjut, harga emas berpotensi turun ke level support pertama di kisaran USD 4.581. Bahkan, jika tekanan semakin kuat, penurunan dapat berlanjut hingga menyentuh level USD 4.492.

Potensi Rebound dan Faktor Dolar AS

Meski tren penurunan cukup dominan, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan skenario alternatif.

Jika harga emas mampu berbalik naik, maka terdapat peluang rebound menuju area resistance di kisaran USD 4.708 hingga USD 4.786. Namun demikian, selama harga masih bergerak di bawah area resistance kunci, bias pergerakan tetap cenderung bearish.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas juga dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat.

Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung beralih ke dolar AS yang dianggap lebih likuid dan aman dalam jangka pendek. Hal ini membuat permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai menjadi relatif berkurang.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir.

Suku Bunga Tinggi dan Risiko Inflasi Tekan Emas

Tekanan terhadap harga emas juga diperkuat oleh kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik global.

Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi, yang kemudian mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Suku bunga yang tinggi membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan yield.

Akibatnya, aliran dana investor cenderung berpindah ke aset berbunga, sehingga menekan harga emas lebih lanjut.

Data Ekonomi AS

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan inflasi dan kebijakan moneter. Data tersebut berpotensi memicu volatilitas di pasar logam mulia.

Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai tren bearish emas masih cukup dominan dalam jangka pendek. Investor pun disarankan tetap waspada terhadap potensi penurunan lanjutan, sambil memperhatikan level kunci yang menjadi penentu arah pergerakan harga berikutnya.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |