Harga Emas Dunia Dijaga Sentimen Safe Haven, Simak Prediksinya Pekan Depan

8 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan pekan ini. Logam mulia masih bertahan di level tinggi seiring menguatnya arus aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik global yang belum mereda.

Emas spot tetap bergerak di atas area teknikal penting, mencerminkan sikap penghindaran risiko (risk-off) yang masih kuat.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai kombinasi sentimen geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) terus menjaga bias bullish harga emas, terutama untuk jangka menengah.

Meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk perkembangan situasi di Venezuela serta konflik global yang masih berlangsung, mendorong investor kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai.

"Dalam kondisi ketidakpastian tinggi, emas secara historis dipilih karena dinilai mampu menjaga nilai portofolio," kata dia dalam keterangan tertulis, Minggu (11/1/2026).

Arus masuk safe haven yang berkelanjutan ini menjadi faktor utama yang menopang harga emas tetap berada di level relatif tinggi. Dalam beberapa sesi terakhir, pergerakan emas cenderung stabil dengan kecenderungan positif, sejalan dengan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap risiko global.

Selama ketidakpastian geopolitik belum mereda, harga emas dinilai masih berpeluang mempertahankan posisinya sebagai aset perlindungan utama di pasar keuangan global.

Sentimen yang Bisa Tekan Harga Emas

Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 2026 masih menjadi katalis penting bagi pergerakan harga emas. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menekan imbal hasil riil obligasi AS dan melemahkan dolar AS, dua faktor yang secara langsung mendukung kenaikan emas.

Andy Nugraha menjelaskan bahwa selama pasar masih memegang ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, minat terhadap emas akan tetap terjaga. Namun, ia juga mengingatkan adanya potensi tekanan jika data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kinerja yang terlalu kuat.

Data ekonomi yang solid dapat memicu penundaan ekspektasi pemangkasan suku bunga, sehingga berpotensi menekan harga emas dalam jangka pendek. Meski demikian, pasar saat ini masih cenderung berhati-hati dan terus mencermati sinyal kebijakan dari bank sentral AS.

Dengan kombinasi ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter yang belum sepenuhnya jelas, emas dinilai tetap menarik sebagai instrumen lindung nilai.

Permintaan Emas

Selain faktor geopolitik dan kebijakan The Fed, permintaan emas dari bank sentral global juga memberikan dukungan struktural bagi harga emas. Sejumlah bank sentral dilaporkan terus menambah cadangan emas sebagai langkah diversifikasi dan perlindungan terhadap risiko global.

Permintaan jangka menengah ini dinilai memperkuat fondasi harga emas dan membatasi potensi penurunan yang terlalu dalam, selama sentimen global masih rapuh. Dari sisi teknikal, Andy Nugraha menyoroti bahwa harga emas masih bergerak di atas level-level kunci, menandakan tren bullish belum patah.

Jika tekanan beli mampu dipertahankan dan tidak muncul sentimen negatif besar, emas berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji area sekitar USD 4.600 pada pekan depan.

Meski demikian, Andy juga mengingatkan skenario risiko yang perlu diwaspadai. Apabila harga emas menembus area kunci di USD 4.139, tekanan jual berpotensi meningkat dan membuka ruang penurunan menuju area USD 4.025.

Investor disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko sambil mencermati data ekonomi AS dan dinamika geopolitik global.

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |