Harga Beras Indonesia Termahal di Asia, Pakar IPB Ungkap Penyebabnya

13 hours ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Harga beras di Indonesia yang tergolong tinggi di antara negara-negara lain di Asia Tenggara disebut bukan hal yang baru. Menurut Pakar Agronomi dan Hortikultura IPB, Edi Santosa, harga beras di Indonesia paling mahal dibandingkan dengan negara Asia lainnya sudah terjadi selama lebih dari 40 tahun.

Berdasarkan data sejarah yang ia kaji, ketimpangan harga antara Jakarta dan Bangkok sudah terlihat sejak tahun 1980-an. 

Dia menuturkan, hal ini mengindikasikan masalah fundamental dalam tata kelola pangan nasional yang belum terselesaikan hingga kini.

Direktur Seameo Biotrop ini juga mengemukakan fluktuasi harga yang terus bertahan selama puluhan tahun tidak bisa lagi hanya dibebankan kepada pelaku pasar atau pedagang. Menurut dia, akar masalahnya terletak pada regulasi yang perlu ditata ulang secara menyeluruh.

"Selama 40 tahun masalah harga mahal ini terus ada. Jadi, kita tidak bisa hanya menyalahkan pelaku pasar. Jika masalahnya bertahan puluhan tahun, berarti ini adalah masalah regulasi yang harus ditata ulang," ujar Edi, Jumat (27/2/2026).

Ia juga mempertanyakan mengapa Indonesia belum mampu menurunkan harga beras agar lebih kompetitif, setidaknya setara dengan harga di pasar internasional.

Kualitas Beras

Di sisi lain, Edi Santosa juga menyoroti stok beras yang disimpan terlalu lama di gudang Bulog. Dia mengatakan, manajemen stok yang buruk bisa membuat beras kehilangan nutrisi hingga tak layak konsumsi.

Dia mengatakan, besarnya stok cadangan pangan, termasuk sisa impor justru berisiko menjadi beban jika tidak dikelola dengan teknologi dan distribusi yang tepat. 

Ia mengungkapkan banyak yang tidak menyadari bahwa beras adalah "benda hidup" yang memiliki masa kebugaran terbatas. Jika proses pengeringan dan penyimpanan tidak optimal, kualitas beras akan menurun dalam hitungan bulan.

"Jika disimpan, dalam 4 bulan warnanya sudah berubah dari putih menjadi agak kuning. Perubahan warna itu menandai kualitasnya sudah turun. Makin lama disimpan, 'tenaganya' makin habis, tinggal tepung dan seratnya saja," ujar Edi. 

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |