Hadapi Kemarau 2026, Kementan Siapkan 57 Ribu Pompa Air

5 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 guna memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga. Berbagai strategi disiapkan, mulai dari penguatan infrastruktur air, penyediaan benih unggul, modernisasi pertanian, hingga pemanfaatan teknologi untuk menjaga produktivitas lahan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, menegaskan sektor pangan merupakan fondasi penting bagi ketahanan dan kedaulatan bangsa. Karena itu, pemerintah terus melakukan berbagai upaya agar produksi pertanian tetap berjalan optimal di tengah tantangan perubahan iklim.

“Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara,” ujar Suwandi dalam Konferensi Pers Pemerintah bertajuk Update Program Prioritas Pemerintah di Aula Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut dia, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, sektor pertanian menjadi salah satu fokus pembangunan nasional untuk mendukung swasembada pangan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan biofuel, hingga hilirisasi pertanian.

Suwandi menjelaskan, Indonesia memasuki musim kemarau tahun ini dengan kesiapan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari optimalisasi lahan, cetak sawah, pembangunan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, hingga penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Ia juga menegaskan bahwa kondisi iklim tahun ini tidak dapat disamakan dengan fenomena El Nino kuat yang terjadi pada 2015 maupun 2023.

“Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” katanya.

Siapkan 57 Ribu Pompa Air dan Teknologi Hemat Air

Meski musim kemarau diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026, Kementan optimistis produksi pangan tetap terjaga melalui berbagai langkah mitigasi yang telah disiapkan sejak awal tahun.

Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah penguatan sistem irigasi perpompaan. Tahun ini, pemerintah menyiapkan tambahan pompa yang mampu melayani sekitar satu juta hektare lahan pertanian. Program tersebut melengkapi sistem perpompaan yang sebelumnya telah mendukung pengairan sekitar dua juta hektare lahan.

“Kekuatan utama kita menghadapi musim kemarau adalah sistem perpompaan, pengelolaan sumber air dari waduk, embung, sungai maupun sumur yang terhubung dengan teknologi dan energi yang memadai,” ujar Suwandi.

Selain itu, pemerintah mendorong penggunaan teknologi hemat air, varietas tanaman berumur pendek, percepatan tanam pascapanen, serta pengaturan pola tanam yang lebih efisien.

Kementan juga terus mendorong peningkatan indeks pertanaman melalui percepatan masa tanam. Jarak antara panen dan penanaman kembali diupayakan tidak lebih dari 14 hari agar frekuensi tanam meningkat.

“Kalau selama ini tanam dua kali setahun, kita dorong menjadi tiga kali. Yang sebelumnya satu kali kita dorong menjadi dua kali. Dengan lahan yang sama, produksi bisa meningkat karena frekuensi tanamnya bertambah,” kata Suwandi.

Petani Dapat Asuransi hingga Bantuan Benih Gratis

Selain menjaga produksi, pemerintah juga memperkuat perlindungan bagi petani yang berpotensi terdampak kekeringan. Salah satunya melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang memberikan nilai pertanggungan hingga Rp 6 juta per hektare bagi lahan yang mengalami gagal panen akibat bencana.

Petani yang terdampak kekeringan juga akan mendapatkan bantuan benih gratis, sarana produksi pertanian, dukungan alat dan mesin pertanian, serta pendampingan untuk mempercepat tanam kembali.

Di sisi lain, pemerintah telah meminta seluruh pemerintah daerah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki jaringan irigasi, melakukan normalisasi saluran air, dan mengoptimalkan pemanfaatan embung maupun waduk.

“Kita minta daerah melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan sehingga langkah-langkah penyelamatan bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat,” jelas Suwandi.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan nasional, pemerintah mengalokasikan sekitar 57 ribu unit pompa air pada 2026 beserta berbagai alat dan mesin pertanian lainnya.

Menurut Suwandi, musim kemarau tidak selalu identik dengan penurunan produksi. Dengan pengelolaan air yang baik, tingginya intensitas sinar matahari justru dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

“Di saat musim kemarau, pencahayaan matahari sangat baik sehingga produktivitas tanaman bisa meningkat. Ini justru menjadi peluang untuk meningkatkan produksi apabila dikelola dengan teknologi yang tepat,” katanya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Kementan optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga dan target swasembada pangan dapat terus diperkuat meski menghadapi tantangan musim kemarau.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Read Entire Article
Kaltim | Portal Aceh| | |